our summer magazine 2013 by Slidely - Slideshow maker

Saturday, April 15, 2006

Seattle (USA part 2)

Post kali ini akan berisi acara jalan2 kami selama di Seattle antara Maret dan April 2006 dengan ditemani oleh James. Foto di atas adalah saat kami mengunjungi Alki Beach di suatu sore, dengan latar belakang Downtown Seattle dan Space Needle-nya.



Ini adalah saat kami mengunjungi Skagit Valley Bulb Farm

Sebuah perkebunan bunga Tulip yang terletak di Mount Vernon, Washington (visit http://www.tuliptown.com)
Perkebunan ini dimiliki dan dioperasikan oleh Anthony DeGoede dan keluarga besarnya, seorang Amerika keturunan Belanda.




Tulip biasanya mulai bermekaran 1 tahun sekali sejak awal April sampai awal Mei. Ketika kami mengunjungi Skagit Valley, bunga tulip belum mekar semuanya, baru sebagian kecil saja. Better than not at all...
Segera setelah mekar, tulip harus langsung dipetik dan dibawa ke pasar bunga atau dijual di perkebunan tersebut, karena hanya dalam hitungan hari akan membusuk jika terlambat.


Bunga yang unik dan berasal dari negeri Belanda ini mempunyai beranekaragam warna yang semuanya indah2. Sayangnya di perkebunan ini, baunya yang tidak setajam bunga mawar lebih didominasi oleh bau pupuk yang berasal dari kotoran hewan...



Golden Bucket

Kubikel ini namanya 'Golden Bucket', kira-kira anda mengerti tempat apakah ini? Hahaha... ini adalah sekumpulan restroom yang masing2 terdiri dari sebuah kotak lengkap dengan 1 kloset duduk dan wastafel. Tidak ada keran bilasan, hanya disediakan tisu gulung dalam jumlah banyak. Jadi dapat dibayangkan bukan aromanya..... no wonder why they put them away in open air!



ahaha, we saw this car in the parking lot near Skagit Valley.






Di satu hari Kamis, James membawa kami berkendara ke utara Lynnwood, terus ke Everett, melewati La Conner menuju ke Whidbey Island. Kami berhenti di salah satu nature park, memarkir mobil dan berjalan kaki mengikuti jalan setapak yang ada. Diujung bawah ternyata terdapat sepotong pantai kecil yang tenang, dengan jembatan ke pulau Whidbey di atas kami..




Kali lain kami pergi melihat Tulalip. Sebuah resor kasino dengan lambang seekor shark whale yang didirikan di penampungan Indian yang telah berkembang pesat, terletak di tepi Interstate 5 antara Everett dan Mount Vernon. (www.tulalip.casino.com)
Tidak lupa kami juga mengunjungi factory outlet Nike yang terdapat di sana.



Ini saat kami menghabiskan sore di Alki Beach.. Letaknya di West Seattle. Dari Interstate 5 keluar di Spokane St, lalu masuk ke West Seattle Freeway, belok kanan sedikit lalu masuk ke Harbour Ave. Diujung depan terdapat Belvedere view point. Jika terus sedikit sudah terlihat bentangan Alki Beach yang menawarkan pemandangan kapal ferry yang lalu lalang dari downtown ke Bremerton, dan downtown Seattle dg Space Needlenya.


Lampu merah di Virginia St, sepulang dari Pike Place.

Jalanan di downtown Seattle lekuknya naik turun mirip jalanan di kota San Fransisco, namun di Seattle lebar jalannya lebih sempit. Indah sekali pemandangan di dalam kota ini. Gedung-gedungnya pun dibangun naik turun mengikuti kontur ketinggian tanah di situ.






Kami berada di bawah Pike's Place, yaitu Public Market di downtown Seattle.

Kota Seattle di masa lalu terletak di bawah tanah, sebelum akhirnya terjadi kebakaran besar yang menghanguskan hampir seluruh kota pada tahun 1889. Setelahnya, Seattle dibangun diatas reruntuhan kebakaran tersebut dengan pusat kota disekitar Pioneer Square, dengan menyisakan sebagian kota yang selamat dipugar sebagai toko2 dibawah tanah yang masih utuh dan dipakai sampai sekarang, termasuk di bawah Pike Place ini.

Di underground ini terdapat toko2 buku dan piringan hitam, poster2 antik, pembuat kerajinan gelas, museum sejarah perempuan dan masih banyak lagi. Hanya saja jangan sampai lupa waktu karena pada jam 18.00 pintu ke arah bawah akan digembok.


Ini adalah Pike's Place bagian atas.

Dari Pioneer Square lurus saja melalui 1 st Ave, satu jalan setelah Union St beloklah ke kiri, di sanalah terletak Pike St dan Pike's Place di ujungnya.
Tempat legendaris yang tidak boleh dilewatkan di pasar ini adalah Pike Place Fish Co yang menjual Salmon. Walaupun tidak akan membeli Salmon anda akan cukup terhibur dengan atraksi mereka saat melayani pelanggan. Oh ya, mereka telah dicatat dalam the Guinness record untuk kecepatan dan keunikan cara mengolah dan membungkus Salmon.
Dari sini berjalanlah ke arah barat laut, tempat pedagang buah dan bunga yang bercampur dengan restauran dan toko yang menjual kerajinan perak. Masih banyak lagi yang dapat dilihat di pasar yang sangat bersih ini.

Restroom unik berbentuk tabung ini terletak di taman segitiga di ujung Pike Place. Mengapa aku sebut unik? karena begitu kita flush toiletnya, maka pintunya akan otomatis terbuka seperti pintu lift. Hanya saja aku ogah mencobanya, bayangkan kalau pas kita lagi nyetor di dalamnya lalu tiba2 listrik error dan pintunya tiba2 terbuka..halah!!


Habis jalan2 di downtown Seattle ngaso sejenak di kursi taman. Di latar belakang adalah Virginia St.






Yang ini adalah Key Arena (kandang dari Seattle Sonics) yang letaknya di Seattle Centre.

Dari Virginia St terus saja sampai lewat perempatan 3 rd Ave, kemudian satu perempatan lagi langsung belok kiri masuk ke 4 th Ave. Lurus saja sampai ujung maka kita akan ketemu jalan masuk ke Seattle Centre dengan Space Needlenya tegak di hadapan kita.

Di Seattle Centre ini terdapat sebuah taman hiburan bernama Fun Forest, exhibition halls, toko2, resto, dan sebuah taman untuk bermain skateboard, juga gedung Key Arena, Pacific Science Center, tentu saja Space Needle, Children Museum di Center House (karena letaknya ditengah2 tentunya) dan juga Experience Music Project. Juga terdapat monorail yang melayani 1 jurusan saja yaitu antara Seattle Center dengan Westlake Center yang lumayan dekat ke Pike Place tadi. Sayangnya waktu kita mau coba naik ternyata hari itu monorailnya sedang closed for service....

Di Everett juga terdapat pabrik dari Boeing, pembuat pesawat terbang yang tersohor itu lho..
Kami sempat mengunjungi tempat tersebut, dan masuk ke gedung yang mereka beri nama 'Future of Flight'. Di dalamnya terdapat museum tentang sejarah perkembangan Boeing (Kevin sedang berfoto di dalamnya), dan juga hall tempat kita di briefing sebelum ikut tur ke dalam pabrik Boeing (tapi kita tidak diperbolehkan mengambil foto2 di dalam mega pabrik tsb). Sayangnya Kevin harus tinggal di gedung ini karena tingginya belum cukup. Juga terdapat souvenir shop yang menjual segala macam pernik Boeing.

Keluarga di Seattle memang pada baik semua nih. Kali ini kami diajak oleh sepupu suamiku, Ronald, dan keluarganya jalan2 di Bellevue (sempat lihat area rumah si Bill Gates segala, tapi dari jauh saja krn pengamanannya sangat ketat), makan di resto Vietnam di downtown dan juga tidak lupa ke.... kuburannya Bruce Lee.. Beneran ini, bukan becanda ya. Bruce Lee dikubur berdampingan dg anaknya, Brandon Lee.





Salju abadi di Mt Rainier



Tau nggak bahwa kedai kopi pertamanya Starbucks ada di Pike Place di Seattle? ini dia buktinya. Lambangnya juga sedikit berbeda dari Starbucks yang sekarang. Bagi penggemar kopi, wajib mengunjungi tempat ini. lihat di http://www.pikeplacemarket.org




Ini adalah foto saat kami berada di Pioneer Square, yang merupakan bagian kota tua dari Seattle.






Totem di Pioneer Square ini sempat hilang dicuri orang untuk beberapa hari di tahun 2008 kalau tidak salah ingat. Untungnya segera ditemukan dan dikembalikan ke tempatnya semula.









Mau lihat kota tua di bawah tanah? ada nih turnya, dimulai sore dan berakhir malam harinya. Masuknya dari pintu di gedung ini. Tapi awas, jangan pakai sepatu hak tinggi, karena kita akan dibawa turun melewati tempat2 tua dan sisa2 kebakaran besar dulu. Lihat di http://www.undergroundtour.com


















Kami saat menyusuri toko2 bawah tanah di Pioneer Square.

















Foto kota tua Seattle di tahun 1900















Kalau yang dibawah ini adalah peta downtown Seattle di sekitar Pioneer Square.

Monday, March 20, 2006

Trip to Remember : Tribute 4 Reintje Sumual





















Dering telepon di pertengahan Maret 2006 mengabarkan bahwa kondisi ayah mertuaku semakin gawat. Dokter telah mendeteksi adanya sel kanker di nasopharinx, yaitu bagian dari sistem pernafasan yang letaknya di belakang rongga hidung, sejak bulan Mei 2005. Berbagai macam pengobatan dan terapi telah dilakukan selama ini. Sebenarnya kami memang telah memesan tiket untuk bulan Mei 2006, untuk pergi menengok papa dan seluruh keluarga suamiku yang telah bermukim di Seattle sejak tahun 1995.


Tidak ada pilihan lagi, sebab kami seperti berpacu dengan waktu, kami harus berangkat sesegera mungkin. Aku segera menelepon Best Tour, agen tempat kami biasa memesan tiket, untuk minta dicarikan penerbangan Northwest tercepat ke Seattle, resikonya kami harus membayar tambahan ongkos pesawat dan biaya reschedule date tentunya. Sementara suamiku segera mengurus ijin cutinya di kantor.

Siang hari dikabari oleh Sianny bahwa tanggal sudah didapat, Senin,20 Maret 2006 dengan tanggal pulang open date. Ok, tiket sudah beres, namun aku hanya punya waktu 3 hari untuk menyiapkan koper dan semua barang yang harus dibawa ke Seattle. Ouch!!


Dari Jakarta jam 16.30 kami naik Garuda tujuan Singapura. Karena Northwest akan terbang dari Changi keesokan harinya jam 06.00 pagi, maka malam itu kami diinapkan di Le Meridien Changi untuk beristirahat. Keesokan paginya, subuh-subuh jam 3 pagi kami bergegas naik ke dalam bis penjemput untuk diantar kembali ke bandara Changi. Untungnya bawaan kami tidak banyak, hanya bagasi kabin yang terdiri dari 3 tas ransel kami masing-masing, sementara koper-koper sudah dikirim langsung dari Soekarno-hatta untuk diambil di Seattle.

Tiba di Changi kami diturunkan tepat di depan counter check-in Northwest. Disana telah menunggu barisan petugas keamanan baik dari pihak bandara maupun kedutaan Amerika. Rupanya sejak tragedi 9/11 pemeriksaan semakin diperketat. Satu persatu calon penumpang diinterogasi ttg maksud mengadakan kunjungan ke US, apakah bawa barang titipan, dll, termasuk diendus doberman mereka segala (yang membuat aku menahan napas, hampir pingsan, karena sy kan takut sama gukguk). perkataan "are u sure? are u sure? really..." berulangkali terucap dari bibir polisi wanita afro-amerika yang kebagian mewawancara daku...huh..susahnya mo pergi ke sana. (sama susahnya seperti waktu kita mau bikin visa, untungnya, karena mertuaku sudah lama tinggal di sana pihak kedutaan akhirnya meloloskan visa buatku)

Selesai check-in dan urusan imigrasi, kami segera mencari sarapan dan berjalan2 sebentar di dalam terminal. Sekitar jam 05.00 kami segera ke gate untuk boarding. Lagi-lagi disana diperiksa lagi, sampai sepatu olahragaku yang ada bekas lem dicurigai! sepatuku diteliti setiap sudutnya, ditekan2 segala (sementara aku berdoa, Tuhan jaga sepatuku jangan sampai lemnya copot lagi..) seakan-akan mungkin menyimpan bom didalamnya..hahaha.

Dari Singapura perjalanan makan waktu sekitar 7 jam untuk sampai di Narita, Japan. Selama di pesawat yang bisa kulakukan hanya nonton film dari personal tv didepan bangku ku, atau dengar lagu, main kartu, makan (untungnya makanan dan minuman mengalir terus sampai perut ini kembung rasanya) dan memperhatikan layar TV lebar didepan, tepatnya pada titik gambar pesawat yang lagi jalan diatas peta dunia antara Singapura dengan Jepang.

Saat mau landing di Narita, co-pilotnya adalah pilot terburuk yang pernah aku tumpangi!! Rasanya perutku seperti diaduk2, kaya naik angkot di Jakarta.. Saat itu sudah jam 13:40 di Jepang. Waktu transit yang hanya sekitar 1 jam kami habiskan dengan lihat2 kios di dalam terminal.

Jam 15:05 kami lepas landas menuju Tacoma, Seattle. Selama perjalanan melintasi laut Pasifik, pramugari meminta kami menutup kaca jendela, supaya kami bisa tidur dan ngga akan terlalu jetlag, karena sekitar 10 jam kemudian badan kita yang seharusnya sedang tidur malam harus menghadapi kenyataan bahwa di Seattle sudah pagi hari.

Tepat jam 07.00 kami tiba di bandara Tacoma. Disini pun kami tidak luput dari wawancara imigrasi (lagi) yang cukup lama, dan pemeriksaan koper di pintu keluar..weleh..weleh..

Akhirnya, sekitar jam 08.30 Seattle time, kami meninggalkan parkiran bandara. Aku dan Kevin semobil dengan adik perempuan suamiku, Yolla, sementara my hubby semobil dengan adik laki2nya, James. Lucunya, selama perjalanan aku ngga bisa konsentrasi dengan apa yang Yolla tanyakan. Aku seperti mendengar dia berdengung di sebelahku, jadi hanya kujawab iya2 saja berulangkali, serasa ada di mimpi saking mengantuknya, sementara Kevin dibelakang sudah zzzzzztt dari tadi.

Tiba di rumah mertuaku adalah pertemuan yang sangat mengharukan, kami semua bersyukur karena masih dapat bertemu dalam keadaan yang lengkap. Thank You very much my dear GOD.

Selanjutnya, hari-hari kami disana diisi dengan membantu merawat papa, bergantian dengan mama mertuaku dan adik2 ipar serta keluarga besar dari papa mertuaku yang memang sudah tinggal disana semuanya. Dihari2 senggang ketika James libur kerja, dia membawa kami berjalan2 kemana-mana (thanks ya), juga tidak lupa ke gereja.




Ranch Market di Edmonds, Washington.
Tempat belanja sayur dan sembako favoritku. Indomie, sambal abc, kacang garuda..semuanya ada.


Toys'r'us di mall Alderwood
Tempat favorit Kevin, cukup jalan kaki dari rumah asal udara tidak terlalu dingin.
Saat itu adalah pertukaran musim dingin ke musim semi. Seattle yang terletak dekat Kanada masih menyisakan hawa musim dingin yang membekukan. Suhu rata-rata berkisar di 46 derajat Fahrenheit. Perlengkapan yang paling aku butuhkan adalah jaket tebal dan topi untuk melawan angin yang sangat membuat pusing kepalaku.





Interstate 5 adalah jalan sehari2 yang kulalui jika mau ke downtown Seattle, atau ke Edmonds serta ke Gereja di Everrett kalau mau cepat. Jalanannya ky tol di Jakarta hanya saja gratis.


Jalanan di Lynnwood, tempat rumah mertuaku berada. Mulus beraspal tebal, dan teratur. Kalau jam macet semua mobil antre dengan tertibnya membentuk 1 barisan spt anak tk mau masuk ke kelas. Tapi karena mobil kita selalu berisi paling sedikit 4 orang maka kita tidak pernah terjebak kemacetan, hehe, karena lajur paling kiri mereka buat untuk orang yang isi mobilnya 3 atau lebih. Jalur itu selalu lengang karena disana 1 mobil kebanyakan terisi hanya 1 atau 2 orang. wah!






Kevin sedang rajin-rajinnya membuat Kumon.
Kalau kami sedang dirumah saja, aku tetap mengajari Kevin berhitung (kalau membaca sih dia sudah jago dari tk A) karena saat kami kembali ke Indonesia nanti dia sudah akan masuk ke kelas 1 SD.







Space needle, landmark of Seattle
for more information visit http://spaceneedle.com


Jalanan di Downtown Seattle, penuh dengan pohon2 yang sebagian masih meranggas akibat pengaruh cuaca musim dingin dan sebagian lagi telah berbunga indah dg aneka warna daun.










Kevin dengan sepupu2nya, Brian & Brianna.







Main di taman dekat rumah opa saat udara lumayan bersahabat.






Merasakan sisa salju yang tidak pernah meleleh di jalan menuju Snoquolmie Falls, di kaki Mt Rainier.
Haha, biasalah...maklum ya, namanya juga orang yang belum pernah lihat salju.








Pemandangan ke atas gunung agak mengerikan kalau menurutku.








Di tempat makan, dan akhir jalan untuk mobil. Orang yang mau main sky harus melanjutkan perjalanan ke puncak naik kereta gantung.








Menengok pangkalan Navy di dekat penyeberangan Ferri ke pulau Bremmerton.




Suamiku dan saudara2nya sedang menentukan lokasi makam papa mertuaku.

Akhirnya Tuhan memutuskan untuk memanggil anaknya yang tercinta pada tanggal 28 April 2006, tepat 1 hari sebelum kami kembali ke Indonesia. Sepertinya papa belum puas bersama kami semua, walaupun banyak diam (karena sudah sulit untuk berbicara)dan beristirahat, tapi beliau merasa tenang dikelilingi anak cucunya, sehingga bertahan sampai kami akan pulang.
Sebenarnya kamipun belum ingin pulang, namun suamiku sudah akan habis masa cuti besarnya, sehingga sempat timbul keraguan untuk pulang, atau tetap disana. Tapi Tuhan selalu menjawab keraguan kita tepat pada saatNya.

May you rest in peace, in GOD's hands that we trust, sampai bertemu lagi di hari yang dijanjikan Tuhan, Amin.









Kevin dan sepupu2 di Bellevue Mall, abis makan Mc Donalds.







Setelah acara Memorial Service mengenang Reintje Sumual di gereja Forest Park, Everrett.







Menengok makam papa setelah acara Memorial Service, sekalian pamit karena besoknya sudah akan kembali ke Indonesia.




James, Yolla, Papa & Mama, di Tulip Town-Skagitt Valley, May 2003

Saturday, March 26, 2005

Singapura: Shopping, Sightseeing, Swimming and Merlion...


Maskapai ValuAir baru aja launching (kelas ekonomi dari Singapore Airlines), jadi menjelang Paskah 2005, tepatnya 22 Maret 2005 kita ber3 jalan ke Singapura. Saat itu ValuAir masih kinclong, interior kabin pesawat dengan warna putih dan hijau segar menebarkan aroma fresh yang menenangkan (sbg catatan, saat ini ValuAir telah bergabung dibawah bendera JetStar). Aku masih ingat, harga tiketnya USD100 perorang, anak kecil dihargai sama untuk kelas ekonomi ini, berarti kami bertiga keluar duit USD300 pulang pergi.

Berangkat jam 1 siang waktu Jakarta, kami tiba di Changi jam 3 waktu Singapura. Beres urusan imigrasi, kami langsung naik MRT menuju Tanah Merah lalu ganti jurusan East West Line ke arah City Hall. Dari sana kami ganti jurusan North South Line ke arah Jurong, lalu turun di Newton karena kami menginap di hotel Asia di Scotts Rd. Dari st Newton hanya tinggal jalan kaki 5 menit sudah sampai di hotel. Tarifnya S$74 semalam (kurs saat itu = Rp 5.600)


Setelah istirahat dan beberes sebentar, kita memutuskan langsung jalan ke Esplanade yang waktu itu juga baru dibuka. Aku ingat saat itu mrt Singapura masih bersih sekali, sementara saat terakhir singgah di negara pulau ini sepulang dari Hongkong Oktober 2009, mrt nya udah ngga sebersih dulu, sayang banget ya, sepertinya setelah Mr LKY turun, disiplin di negara Singa ini juga agak melorot jadinya :(

Kami turun di City Hall lalu berjalan kaki ke arah hotel Fullerton sambil menikmati pemandangan gedung2 sekitar. Kemudian menyeberangi perempatan besar di depan one Fullerton, lalu turun lewat tangga kecil di samping trotoar pejalan kaki yang lebar, dibawah sana tegak berdiri di pingir sungai Singapura, patung Merlion, mahluk setengah duyung setengah naga yang menjadi ikon Singapura.


Foto2 Kevin disini menunjukkan pipinya yang sudah gembul kembali setelah sembuh dari tifus dan flek paru-paru yang harus diobati selama kurang lebih 6 bulan, thanks GOD. Setelah puas berfoto2 kami naik mrt kembali ke Orchard untuk makan malam di Lucky Plaza (haha..khas orang Indonesia) dan cuci mata di Orchard, lalu pulang ke Hotel via st Newton.
Tidak lupa sebelum tidur memijat kaki Kevin yang kelelahan karena lama berjalan kaki hari ini, very very good boy!

Keesokan harinya setelah sarapan sandwiches dan susu kamipun segera berangkat. New day new journey. Kami berangkat dengan berjalan kaki ke Orchard (bukan naik mrt ya), jaraknya memang dekat, namun karena


Scotts Rd letaknya lebih rendah dari Orchard maka jalan yang kami tempuh jadi lumayan 'mendaki'. Olahraga pagi nih jadinya ;p. Hari ini kami pergi mengunjungi Haw Par Village yang sudah berdiri dari tahun 1937. Dulu namanya Tiger Balm Gardens, karena yang punya juga memproduksi balsem merk Tiger Balm yang tersohor itu. Letaknya di Pasir Panjang, taman ini berisi lebih dari 1000 patung yang menggambarkan sejarah dan mitologi Singapura serta ideologi Konfusius menurut pandangan kaum tionghoa Singapura. Ada juga goa yang berisi patung-patung yang menceritakan ttg penggambaran baik dan jahat serta reinkarnasi. Semuanya ini sayang untuk dilewatkan. Banyak sebenarnya yang bisa dilihat di Singapura selain daripada ORChaRd..hehe



Selesai melihat Haw Par kami segera pergi ke Jurong Town Hall Road. Karena Haw Par lumayan jauh letaknya dari stasiun mrt kamipun memutuskan naik bis saja, berebkal rasa pd dan ngga buta huruf :) tanya2 aja ke orang, lagipula di tiap halte bus jelas terpampang jalan2 yang akan dilalui tiap nomor bus.
Di Jurong ini terletak Snow City bersebelahan dengan Singapore Science Centre. Jangan kuatir kedinginan karena pakaian dan perlengkapan sudah termasuk dalam harga tiket. Suhu di dalam minus 6 derajat celcius. Ngga tahan lama2, belum 1 sesi selesai kami sudah keluar. Lumayan, sempat nyobain seluncur pakai ban, pangkal paha ku lumayan sakit karena dipake nahan larinya ban...takut keguling soalnya.. :) Setelah itu kami singgah sebentar lihat2 di Science Centre.


Dari sana kami sempat mengunjungi temanku yang tinggal di daerah Bukit Batok, sudah lumayan lama ngga ketemu soalnya, janjian di apartemennya, eh, dia belum sampe, jadi kita main2 dulu di mall dekat situ, sempat makan juga, baru ketemuan dg my friend n fam.

Puas melepas rindu, kami pun pamit, lalu melanjutkan perjalanan ke Suntec City, kali ini naik mrt dong. Saat itu Suntec City adalah the Largest shopping mall yang terbaru, lengkap dengan atraksi Fountain of Wealthnya yang wajib dilihat saat malam tiba.
Selesai disini, kamipun kembali ke hotel, tidak lupa hari ini ditutup dengan acara pijit2 kaki Kevin....hahaha


Hari ini tanggal 24 Maret 2005, tujuan kami pergi menengok Raffles City, singgah di Chijmes, makan siang di Parco Bugis Junction, belanja ke Mustafa di daerah little India dan ditutup dengan naik cable car ke pulau Sentosa, ooh what a busy day!

Chijmes adalah bekas kompleks gereja dan biara yang diubah menjadi restauran di tempat terbuka. Bagus tempatnya, karena ada unsur sejarahnya, sayangnya karena kita pergi pagi, banyak yang belum buka. Menurut informasi orang disitu tempat ini baru ramai menjelang sore sampai malam. Aku bayangkan, hmm, pasti romantis banget makan malam disini dibawah temaram bulan..weekk!! jadi pengen.. ;p
Dari sini ke Parco cukup naik bis aja, wong deket banget, sempat singgah di pusat IT Funan buat cuci mata doang.

Parco Bugis Junction merupakan deretan toko mirip di pasar baru, bedanya disini ada atap penghubung yang terbuat dari kaca antara toko kita dg toko diseberangnya, jadi aman dari hujan maupun angin, karena pintu masuk diblok dg kaca juga dan diberi AC. Diujung dekat Mc Donald ada air mancur yang dipenuhi anak2 yg asik main air. Kevin hanya bisa manyun karena sirik liat mereka main sementara dia kan ngga bw baju renang.


Dari sini kita naik mrt sampai ke stasiun Harbour Front (sekarang sih mrt udah nyambung sampai sentosa yak), dari sini kita naik cable car nyebrang ke Sentosa, seorang $25, Kevin gratisss. Tapi kalau naik cable car, ada batas waktu sampai jam 20.00, itu cable car terakhir dari Sentosa ke main island.

Lumayan juga liat2 di Sentosa, ada Carlsberg Sky Tower yang bisa nengok Indonesia (batam..haha), Merlion terbesar, juga nonton air mancur menari sebentar, baguss juga. Habis dari sini kita langsung balik dan makan malam di Orchard, trus balik ke hotel, karena besok pagi kita mau renang2 seharian di Wild Wild Wet, jadi kudu jaga stamina, ngga boleh kecapean.


Last day in Singapore, we're heading towards downtown east, ke arah atas Changi kalo di peta. Semacam ancolnya Singapura gitu..
Sebelum kolam dibuka, aku sempat nyari baju renang baru buat Kevin, waah, dia senaaang sekali, langsung dipake jadinya..
Mula2 nyobain kolam arus yang berombak (mirip Ocean Park BSD, tapi ombaknya lebih seru), trus kolam anak yang tiap berapa menit airnya tumpah dari ember yakult yang gede..hehe,

lalu nyobain hot whirlpool, sempat naik sepeda yang relnya diatas semua kolam ini. Disini kolam buat anaknya luas sekali, perosotannya anaknya juga banyak, lebih banyak daripada waterbom PIK, surga deh buat kids, tidak lupa terakhir main di kolam ombak, serasa di pantai Ancol kalo lebaran, kaya cendol deh, tapi yg pasti puas..puas..puas dengan air air ini. Kolam ditutup jam 19.00, tapi dari jam 18.00 kita udah dihalo2 spy mentas.

Pulangnya kita singgah makan di Lucky Plaza lagi (secara memang cocok dengan lidah dan saku orang Indonesia ;p), terus aku musti beres2 koper spy besok pagi tinggal ciaoo.


Pagi2 jam 8 waktu Singapura kita sudah di mrt jurusan Changi. Beres check in dan imigrasi, baru deh mulai tengok2 cari sarapan. Difoto keliatan ya matanya masih pada bengkak dan pipinya tembil karena bobonya kurang.

Selesai makan Kevin menyerbu Kaboom, dulu sih ada di sebelah majalah Times dan toko coklat Cocoa Tree, tapi sekarang udah dipindah letaknya.
Pas banget letaknya ini toko karena saling menyambung, aku di toko coklat, papanya di toko majalah, cucok kata orang Padang.



Jam 10 tepat pesawat kami take off dengan tujuan Jakarta.
Bye Singapura!!! Thanks GOD for this refreshing holiday.