our summer magazine 2013 by Slidely - Slideshow maker

Saturday, June 5, 2010

Wisata ke Bandung Selatan: Kawah Putih dan Situ Patengan



Setelah ulangan umum dari sekolah selesai, ada 1 minggu istirahat sebelum menjalani ulangan dari dinas pendidikan nasional. Jadi pada tanggal 5 Juni 2010 kami mengajak Kevin untuk jalan2 ke Kawah Putih. Sudah ada beberapa temanku dan juga guru2 sekolah Kevin yang pernah mengunjungi tempat tsb, dan dilihat dari foto2 mereka Kawah Putih sepertinya tempat yang sayang untuk dilewatkan.

Dari rumah kami berangkat pagi sekali, jam 05.45, karena ingin sampai di Kawah Putih sekitar jam 9 pagi. Seperti biasa kami berhenti di KFC km 39 dulu untuk beli sarapan dan dimakan sambil jalan.

kiri: keluar kompleks masih sepi
kanan: sampai di Bale Endah jam 8

Jam 7 kurang 5 menit kami sudah memasuki tol Cipularang dan melewati km 76 yg merupakan exit keluar terdekat kalau mau ke tangkuban perahu. Kali ini kami akan keluar di pintu tol Kopo-Bandung.

kanan: Masjid Besar Ciwidey


Dari exit tol Kopo belok kanan melewati kompleks Kopo Permai tempat tinggalku semasa smp :) terus ke arah Bandung Selatan.
10 tahun tinggal di Bandung paling jauh jalan ke arah selatan ya cuma sampai patung pesawat di Nurtanio itu, ngga pernah lebih...hehe. Makanya kaget juga waktu dibawa suamiku lewat sini... oh, ternyata...?!



Jalan ke arah Kawah Putih selepas Ciwidey kanan kirinya didominasi oleh kebun2 strawberry kecil maupun besar dan alamaaak... jalanannya sempit!

Jam 9 lewat 1 menit kami memasuki gerbang Kawah Putih yang katanya baru di buka kembali setelah tutup beberapa waktu yang lalu untuk ditata ulang. Ternyata penataan tsb berwujud pada kondisi jalan ke kawah yang sekarang mulus sekali, dan pada lokasi pedagang yang dulu katanya berada di pinggir bibir kawah, namun setelah longsor membuat sang pemilik yaitu kementrian kehutanan berpikir ulang untuk merenovasi kawasan wisatanya ini.

Saat ini lokasi untuk pedagang terletak di sebelah kanan setelah gerbang bayar tiket. Ada 2 pilihan apakah hendak membawa mobil sampai ke atas (dekat dengan kawah) atau memarkir mobil di area pedagang kemudian naik angkutan yang mereka sediakan ke atas. Opsi ke 2 tentu lebih murah, namun penetapan harga belum terlalu jelas. Sepertinya mereka belum siap betul untuk membuka kembali tempat ini.


Kami bertiga memilih opsi pertama dan harus membayar tiket seharga Rp 185.000 What????? tiketnyapun hanya berupa kwitansi tanda terima uang yang ditulis tangan dan diberi cap oleh si bapak. Wah..wah.., padahal katanya sebelum renovasi itu untuk masuk Kawah Putih cukup membayar sekitar Rp 7.000 seorang?
Selesai urusan bayar tiket, mobil langsung jalan ke arah atas. Jalan yang mulus sekali tapi ngga cukup lebar untuk 2 mobil, heran, waktu bikin jalan mereka ngukur lebar jalannya pakai ukuran daihatsu ceria kali ya?

Sampai di tempat parkir di atas baru ada 1 mobil yang parkir.yes! berarti masih sepi nih.. senangnya :D

Pemandangan disini memang fantastis, serasa di danau salju yang dikelilingi pohon meranggas yang kedinginan, padahal kenyataannya mereka meranggas karena terkena hawa belerang yang baunya membuat paru-paru megap2 karena sesaknya...hhhhhhhfh. Saran dari bapak petugas sebaiknya berada di sekitar kawah tidak lebih dari 20 menit untuk amannya, karena kandungan belerang disini sangat tinggi.

Menurut sejarahnya dulu tempat yang merupakan danau kawah dari gunung Patuha ini tidak pernah didatangi oleh penduduk sekitar bahkan hewan satupun nggak pernah terlihat saking angkernya. Kemudian datang seorang berkebangsaan Belanda yang menyelidiki tempat ini dan menemukan penyebab mengapa tidak ada satu hewan-pun yang mau dekat2 kemari, nggak lain karena hawa belerang itu. Sejak itu kawasan ini mulai didatangi orang karena keindahan alamnya yang tersebar dari mulut ke mulut.

Puas menikmati Kawah Putih kami segera kembali ke mobil. Saat berjalan kesana kami berpapasan dengan sangat banyak orang yang baru datang..hehe...untung aku sudah puas foto2 bersepi-ria dengan alam.

kiri: membawa Buzz n Woody foto di jalan menuju Situ Patengan.


Dari Kawah Putih kami pergi menuju ke Situ Patengan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawah tersebut. Sempat berhenti di pinggir jalan untuk foto2 dengan latar belakang kebun teh yang terletak di lembah luas yang bukan main indahnya..

Tiket masuk bertiga + mobil Rp 15.000, sangat murah dibandingkan Kawah Putih. Mungkin ini sebabnya taman wisata ini jauh lebih ramai dari Kawah Putih.

Ditengah-tengah taman wisata terdapat danau besar (situ=danau) dan di tengah danau terdapat pulau kecil yang dinamakan pulau asmara karena bentuknya yang mirip hati.

Orang sering melafalkan Situ Patengan dengan Situ Patenggang, namun Patengan berasal dari bahasa Sunda 'Pateangan-teangan' yang artinya saling mencari. Alkisah katanya ada 2 orang yang bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling cinta, lalu mereka berpisah sekian lama dan kemudian saling mencari. Finally they met di sebuah tempat yang dinamakan Batu Cinta. Si wanita lalu minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu ini kemudian menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati tadi.


Jam 11.35 kami selesai mengunjungi tempat ini kemudian mobil mengarah kembali ke Bandung.
Menjelang pasar Ciwidey, macet. Soreang, macet. Kopo, macet, puarah. Hhhhrrggghh.. mana perut udah kriuk kriuk, namun hujan besar membuat kami malas untuk menepikan mobil sekadar untuk berhenti di restoran apa aja gitu.

kiri: kebun teh di Ciwidey, menjelang masuk ke Situ Patengan


Akhirnya sekitar jam 3 sore baru kami bisa lepas dari macet-macet tersebut yang ternyata sebagian besar disebabkan oleh genangan air karena hujan besar itu.

Setelah berhenti makan siang di Jl Hasanudin kami langsung menuju hotel Padma di Ciumbuleuit untuk beristirahat karena badan sudah lelah sekali.

Istirahat di kamar, baring-baring, nonton tv, main komputer, internetan gratis, ngga terasa jarum sudah menunjukkan hampir jam 8 malam dan perut mulai bunyi lagi, wah..

Karena udah tobat sama yang namanya macet, malam ini kami putuskan untuk makan malam di Maxi's Resto dekat hotel saja. Sebetulnya sih cukup jalan kaki tapi karena gerimis ya terpaksa naik mobil..hihi, baru jalan bentar udah musti turun lagi. Hanya 2 menit :) Setelah kenyang langsung balik lagi ke hotel.

Paginya setelah selesai sarapan kami sempatkan untuk berenang. Aku paling senang berenang di hotel ini karena airnya ngga pernah berasa dingin walaupun cuaca disini sedang dingin sekalipun. Heran d, jangan-jangan mereka pakai water heater ya, hanya saja suhunya disetel sedang2 saja :)

Sisa hari kuhabiskan dengan leyeh-leyeh dikamar sementar Kevin main flying fox dan basket bareng papanya.......... :D


Sunday, May 2, 2010

Tangkuban Perahu, after 15 years, here we come again...

Istirahat Akhir Pekan di Bandung

1 Mei 2010
Sabtu pagi jam 07.00 kami bertiga berangkat dari rumah untuk berakhir pekan di Bandung. Masuk tol Cikampek melalui pintu tol Bekasi Barat, kami langsung meluncur ke arah Sadang. Setelah berhenti sebentar untuk sarapan di km 39, perjalanan pun dilanjutkan kembali.
Kami mengambil arah Sadang di pecahan tol Sadang-Cikampek, kemudian setelah masuk tol arah Bandung, kami mengambil jalan keluar ke arah Subang, karena tujuan pertama kami sebelum mencapai Bandung mau melihat Tangkuban Parahu dan Sari Ater (d/h Ciater).







Hutan pinus menuju Sari Ater Hot Spring


Jalan ke arah Subang sempit dan berliku, namun tidak ada macet. Paling hanya melambat sedikit kalau bertemu truk2 kecil yang jalannya pelaan. Lewat Subang kita juga disuguhi perbukitan teh yang tidak kalah menawan dibandingkan daerah puncak
Di bibir kawah Ratu
Dari Subang yang pertama kami lewati adalah Sari Ater Hot Spring. Jam saat ini menunjukkan pukul 09.15. Harga tanda masuk bertiga dengan mobil Rp 61.000, tapi karena tidak ada yang ingin berenang di sini kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Tangkuban Parahu yang tidak begitu jauh dari Sari Ater, kira-kira 2 km saja.
Pintu masuk kawasan Tangkuban Parahu masih sama seperti 24 tahun yang lalu saat aku masih kelas 5 SD main ke sini bersama orangtua dan saudara. Jalannya pun masih rusak sana-sini (jangan2 dari dulu ngga pernah dilapis aspal lagi ya J ) . Naik terus ke atas, melewati kawah Domas, sampailah kami di bagian puncaknya, yaitu kawah Ratu. Sekarang di atas sini sudah jauh lebih rapi dibandingkan ingatanku dulu. Pedagang kaos dan makanan sudah tertata apik di kios2 yang di atur sepanjang jalan setapak menurun ke arah bibir kawah.

Setelah foto-foto, dan sempat makan jagung bakar panas2, kami putuskan untuk segera menuju Bandung, karena terik matahari sempat beberapa kali mengintip di balik awan mendung di atas gunung Tangkuban Parahu.
Sempat berniat untuk berhenti di pasar buah dan sayur Lembang, tapi karena sepertinya arus lalulintas sudah di ubah arahnya, akhirnya karena takut nyasar dan kelamaan, kami segera meluncur ke Bandung.
Memasuki jalan Setiabudhi atas, melewati hotel GH Universal, jadi ingat, dulu sempat menginap di hotel ini sekitar Agustus 2008 waktu hotel ini baru saja di buka. Kamarnya besar dan ok, sayang air kolamnya dingin bukan kepalang, juga tarifnya terlalu tinggi untuk keadaan hotel dan pemandangannya. Dengar2, sekarang mereka sudah cut-off tarifnya. Lumayan juga kalau di kisaran Rp 500ribu.
Lewat rumah sosis, tadinya mau makan dulu karena sudah jam 11.30, tapi diputuskan untuk mencari tempat makan lain di daerah Ciumbuleuit, karena kami jarang-jarang ke daerah sini. Biasanya kegiatan hanya terpusat di Setiabudhi, Cihampelas, Cipaganti, Pasteur, Pasopati, Dago, dan pusat kota.
Sampai di akhir ruas Setiabudhi yang akan nyambung ke Jl Cihampelas, kami belok kiri, ketemu lampu lalin, ambil jalur yang terus ke atas, Jl Ciumbuleuit (kalau belok kanan ke arah Taman Sari, ITB dll) Naik terus ke puncak gunung J melewati Universitas Katholik Parahyangan, ketemu d’Bale Pakuan di samping kiri jalan, belok kanan dulu masuk Jl Ranca Bentang, ikuti petunjuk Maxi’s Resto, sampailah kami ke restoran yang halaman parkirnya luas dan asri. Ngga nyangka, tadinya pas lihat papan petunjuk dan jalan2nya yang kecil, aku pikir pasti ini restoran yang buka di garasi rumah JJ






Pintu depan Maxi’s Resto


Maxi’s Resto menyediakan makanan western dg tatanan Fine dinning. Walaupun begitu kalau kita pakai baju casual boleh-aja koq J Indonesia tea atuh J. Makanan pembuka adalah sup ayam dan asparagus dg French toast.




Setelah pilah pilih, akhirnya aku putuskan (terjemahannya ya) ayam di panggang dg saos tomat dan oregano ditaburi jamur dan keju mozarela dg kentang goreng dan salad, minumnya orange float (asli jus jeruk, bukan Fanta J). Kevin mau nasi dg ayam teriyaki dan zukini+wortel+jamur yang di tumis, dg vanilla milkshake. Terakhir my Hubby pilih ayam yang dipanggang tanpa minyak dengan saus Bechamel dan mashed potatoes serta salad (bisa pilih mau tumis sayur atau salad) dan minumnya jus BLACKBERRY…haha…asli bukan dummyJ. Porsinya ukuran bule dan rasa tidak terlalu asin, tapi karena lapar berat plus udara sejuk Bandung (lagi mendung saat ini) ya licin tandas juga. Bon kami Rp 165.000 sudah tax n service charge. Boleh juga… Sekedar info dari temanku resto ini ternyata dulu namanya adalah Glosis.
Dari sini tinggal naik terus sampai ujung atas Ciumbuleuit lalu belok kanan kea rah jalan Ki Putih, petunjuk Hotel Padma tersebar dimana-mana. Hotel ini adalah ex The Chedi Bandung, aka Hotel Malya, yang kemudian ganti pemilik, direnovasi dan voila…renamed as Hotel Padma Bandung, sister dr Padma Bali.
Ternyata dari depan hotelnya tampak kecil, ngga seperti di situs hotel Malya dulu yang sepertinya lebaar sekali. Front Office hanya terdiri dari 2 penerima tamu. Setelah check in, kami segera menyimpan barang di kamar, lalu istirahat. Hotel ini menyediakan free internet access yang lumayan cepat dan terpenting gratis toh?. Sorenya kami habiskan dengan berenang, surprise, airnya ngga terlalu dingin lho, padahal cuaca sempat gerimis sedikit, lumayan aku berenang sampai 30 putaran J. Di sini juga ada whirlpool air panas..hebat…






Ada Floating Wedding Chapel

Setelah puas berenang, kami mandi dan main2 di kamar (kan judulnya mau istirahat, bukan belanjaaah ke FO J). Hampir jam 8 malam perut tiba2 jadi lapar, meluncurlah kami ke Jl Naripan (setelah terlebih dulu kena macet di Cihampelas, krn mobil2 pada antri mo masuk CiWalk) buat makan mie Naripan langgananku. Malam yang dingin, habis berenang memang cocoknya makan mie dan bakso plus kuah kaldu panas..hmmm. Jangan takut kemalaman karena mereka buka s/d jam 10 malam. Selesai makan, balik ke hotel lewat Dago, muter2 aja liat suasanan Bandung malam minggu..rame banget.. Di depan UnPar, berhenti di CircleK beli air mineral botol dan es krimJ, lalu pulang ke hotel… nonton, internetan, lalu boboks J J



2 Mei 2010

Bangun jam 6 pagi, kami menyelinap ke bawah saat orang2 masih pada tidur. Puas deh foto2 di halaman belakang hotel, tadinya mau ke bawah, ke area Flying Fox dan olahraga lainnya, tapi lagi-lagi karena panggilan perut, kami malah naik ke lantai atas menuju ke Restoran buat sarapan. Satu-satunya kekurangan hotel ini buat saya adalah anak harus bayar lagi untuk sarapan, sekitar Rp 60.000++, padahal, berapa banyak ya isi ukuran lambung seorang anak umur 9 tahun J? Hotel paling asik menurutku adalah Hard Rock Bali, karena boleh sarapan gratis untuk 2 adults dan 2 childs under 12!!!! Makanannya enak dan variasinya banyak, kolamnya besar banget, kemana-mana tinggal jalan kaki…jempol..jempol.. J Kembali ke Padma: menu sarapannya enak, terutama kesukaanku adalah tomat panggang!! Menunya beragam, dari western sampe oriental dari es puter sampe es krim, puas deh.






Jalan ke restoran

Balik ke kamar, kami santai2 aja, lalu Kevin sempat berenang lagi dan main basket + Flying fox dg posisi mundur (terbalik) secara dia gengsi soalnya si Arya temannya yg kenalan di kolam renang tadi udah meluncur duluan, padahal kemiringannya lumayan curam..hahaha..sayangnya camcorder ketinggalan di kamar L next time!
Jam 11 aku beres2 koper, dan tepat jam 12 kami check out dari Hotel Padma. Sebelum pulang ke Jakarta, kami sempatkan mengunjungi yoghurt Cisangkuy. Sebelumnya dari arah jl Aceh kami berputar arah di sekitar lapangan Gasibu, mgkn karena habis ada pertandingan apa giitu, sampah masih berceceran dimana2. Tadinya sempat mo singgah di Museum Geologi, tapi karena parkirannya penuh, males muter lagi, ya udah langsung aja ke Cisangkuy. Pesan yoghurt anggur, leci dan strawberry, kentang goreng, sate dan batagor, tidak lupa cobain surabi keju…Kenyang, langsung menuju Pasteur via Pasopati. Tidak lupa sebelum pulang mampir di Gepuk Ny Ong, buat oleh2 saudara di rumah J
Sekitar jam 14.00 kami masuk pintu tol Pasteur, jalanan lumayan sepi, cikampek juga sama. Jam 4 lewat sedikit kami sudah sampai di rumah dengan selamat. Akhir pekan yang nyaman tanpa singgah di FO lain kali patut di coba!! JJJ


Yoghurt Cisangkuy

Sunday, April 25, 2010

Dari Cimory Resto sampai Puncak Pass

Minggu, 25 April 2010 setelah selesai bersepeda pagi bertiga, kami memutuskan mau jalan ke Puncak. Biarin deh, macet juga gpp.. soalnya aku pengen banget nyobain resto Cimory, itu tuh yang bikin yoghurt enak itu. Beberapa kali pulang pergi Jakarta-Puncak resto ini hanya kita lewati begitu aja coz perut udah full diisi ditempat lain. Jadi kali ini diniatin bener mau lunch disana!

Start dari rumah aja udah jam 11 lewat. Tol cikampek arah cikunir lancar, dilanjutkan dg tol jagorawi...wiih, lancar juga. Keluar di Ciawi mulai rada rame nih, tapi ngga ada macet koq sampai di tempat tujuan kita ini. :)

Jam 12:45 kami sampai di depan resto tapi duuh parkirannya


penuh seperti biasa. Sama si bapak parkir kita disuruh parkir di dalam resto. Oh ada toh parkiran di bawah sana.. Ternyata kapasitas parkir di dalam itu lumayan banyak tapi jalan masuknya lumayan terjal. Hati2 buat yang baru belajar nyetir :)

Sekitar setengah dua siang pesanan datang menghampiri kami bertiga yang duduk manis sambil foto2in semua sudut yang bisa difoto (sampe pelayannya mendengus sebel krn dia yg mahluk idup aja koq ngga difoto..yeiy maunya)


Chicken Steak pesananku rasanya lumayan, Cordon Bleu dan chicken wings nya juga standar aja. Salah pilih menu kali ya? harusnya ikut pilihan si koki aja.. Minumnya mah pasti yogurt Cimory dong, plus beli lagi buat diminum di jalan dan di rumah (maruk dot com) :)

Setelah puas makan dan foto2 (lagi!) kami segera melanjutkan perjalanan

ke arah atas. Tepatnya ke Puncak Pass, tapi setelah dekat kita malah naik lagi menuju parkiran restoran Rindu Alam. Waktu kita tadi jalan keatas sini sama sekali ngga ada macet, tapi aduh kasian itu mobil2 yang pada mo turun ke Jakarta macet abiiiiiiis, sama sekali ngga bergerak untuk waktu yang lama.

Udah lama banget ngga kesini, terakhir jaman baru jadi mahasiswa sekitar tahun 1995. Tempatnya ngga berubah, masih persis kaya dulu, banyak yang jualan, banyak yang pacaran, banyak yang lagi 'foto diri' ( itu lho, yg memegang hp dengan posisi terbalik, pantat hpnya menghadap ke kita, bikin senyum paling maniez, kepala rada miring dikit, atur2 rambut, mata genit, dan..ceklik! trus liraklirik kanan kiri ada yang liat gw gak ya..)

Si Kevin sempat beli balon tiup dan maen sama abangnya segala hehe.

Foto kiri: antrian mobil yg mo ke Jkt

Foto kanan: jalanan yang lega krn arus dr bawah sudah ditutup.

Di parkiran ini kita istirahat cukup lama, sekalian menunggu jam buka tutup jalan yg akan dilakukan oleh bapak2 polisi kita yang baik.

Tepat jam 16.30 itu macet dibawah sana tiba2 hilang. Rupanya arus dari Jakarta sudah ditutup sehingga yang dari atas sini jadi 2 jalur. Wah, ngga nunggu lama2 kita langsung meluncur pulang. Karena ngga ada titik kemacetan lagi, kami bisa lebih cepat sampai di Bekasi.

Jam 19 lebih sedikit mobil kami sudah memasuki parkiran restoran jawa timur di dalam area kompleks perumahan kami. Makan lagi ah.......!!

Foto bawah: lelah dan mengantuk; si baju hijau dengan minuman hijaunya, es chlorophyl. ^_^

Saturday, February 6, 2010

Waterbom PIK


Kami sekeluarga sangat cinta segala tempat yang berhubungan dengan berenang. Dari kolam renang sampai laut, ngga ada tawaran liburan yang akan kami tolak kalau berkenaan dengan yang satu ini. Jadi bukan asal2an kalau aku masukkan Waterbom sebagai salah satu topik di blog-ku ini. :)

Selain yang di Pantai Indah Kapuk kami pernah icip-icip kum-kum di Bali dan yang di Cikarang. Setelah sekian tahun lewat baru 'ngeh' bahwa ternyata yang berafiliasi hanya yang PIK dan Bali, sementara yang Cikarang sudah tidak lagi. Dari namanya juga bisa dilihat, yang dua disebut Waterbom sementara yang di Cikarang: Waterboom dengan 2 huruf O. Jadi sekarang jelas sudah yang mau kubahas disini adalah salah satu Waterbom yang dibangun di Pantai Indah Kapuk ya.

Dari mulai dibuka, sudah beberapa kali kami pergi kesini. Jadi post ini fotonya memang terdiri atas beberapa kali kunjungan :)

Setelah membayar harga tiket masuk yang lumayan :( , (kalau punya stnk mobil honda lumayan lho)


Langsung menuju ke area loker dan kamar ganti. Klik disini untuk harga sewanya.

Kevin yang tidak sabar langsung berlari menuju area Bomblazter yang menumpahkan air dari ember besar tiap 5 menit.

Kami bersantai dulu di area pleasure pool, tidur2an sambil nonton orang2 yang sedang main volly pantai di dalam kolam.


Ketika panas matahari sedang bersahabat kami segera meraih ban pelampung dan melompat ke Wild River yang berarus sedang dan dapat berubah lumayan kencang kalau Wave pool-nya dinyalakan.

Tapi menurutku kalau untuk urusan main ombak yang paling enak di Jakarta adalah di Ocean Park BSD. Mungkin karena kolam ombaknya besar banget membuat ombaknya lebih enak dinikmati dan sungainya juga berarus dan berombak jauh lebih kencang walaupun tidak begitu dalam sehingga cukup aman untuk anak. Hanya sayangnya Ocean Park dengan tarifnya yang lebih murah membuatnya lebih banyak dikunjungi orang, yang tidak dibarengi dengan maintenance pool yang seimbang sehingga terakhir kami kunjungi koq jadi rada2 jorok ya keadaannya.


Kelebihan di Waterbom adalah dari aneka perosotannya. Yang di Bali malahan jauh lebih asyik lagi. You should try!

Foto kiri adalah my hubby waktu mencoba Speed Slide yang merupakan perosotan tertinggi dan tercuram di PIK ini, whoaah..

Speed Slide akan membawa kita meluncur dengan kecepatan 70 km per jam dari ketinggian 20 meter sepanjang 113 meter!
Oh ya, kalau kemari jangan lupa untuk menggunakan pakaian renang betulan ya, bukan sekedar kaos dan celana pendek, karena tiap perosotan ada pengawasnya dan mereka akan melarang orang yang tidak menggunakan pakaian renang yang benar untuk meluncur, mungkin takut bajunya akan membahayakan kita ya, karena di dalam terowongan kan kita hanya sendirian dan kadang posisinya akan terputar2 ngga karuan.


Ada juga perosotan yang merupakan favoritku, namanya The Whizzard, yang merupakan 2 perosotan kuning yang saling berdampingan. Jadi bisa dipakai lomba sama ayah, ibu, kakak, adik,teteh, om, eyang..... :) Syaratnya hanya bawa alas berwarna biru, lalu kita hanya perlu tidur tengkurap diatasnya dan meluncur dengan kepala duluan..hehehe

Disini semua ban pelampung dan alas perosotan gratis, kalau di Ocean Park masih harus bayar lagi. Untuk sewa loker, handuk dan deposit uang makan, semuanya disimpan di gelang tangan yang ada barcodenya. Jadi kalau mau jajan tinggal angsurin aja tangan kamu, mereka scan, makanan siap kita bawa. Praktis dan kalau ada sisanya bisa kita refund di pintu keluar, yaitu di area toko souvenir dan baju renang.

Ada lagi Aquatube, 3 perosotan yang mengharuskan kita untuk memakai ban pelampung untuk meluncur di dalamnya. Satu perosotan terbuka total dari atas sampai bawah, satunya tertutup semua, yang terakhir setengah terbuka. Silahkan pilih mana yang kamu suka. I prefer the open one.

Oh ya, yang ngga boleh ketinggalan untuk di review adalah The Hairpin. Perosotan ini merupakan ikon PIK, karena di Bali ngga ada yang beginian. Pelampungnya besar dan muat untuk 4 orang. Kalau mau berdua aja juga boleh. Namun hati-hati dan pegangan yang kuat ya, karena saya punya pengalaman buruk di tempat yang satu ini.

Saat pertama kali mencoba Hairpin, air yang dialirkan ke terowongan ngga terlalu banyak, sehingga arus yang terjadi cukup pelan dan membawa pelampung kita turun perlahan ke bawah. Rasanya cukup mengasyikkan.

Namun kali terakhir kami kesana, air dialirkan cukup banyak ke dalam terowongan sehingga ban kita meluncur dengan cepat, sampai di bawah pelampung mengalami hentakan cukup keras ketika menyentuh permukaan air di kolam kecil di bawah sana yang membuat aku terlontar keatas dan bersalto kebelakang, padahal aku sudah berpegangan erat pada pelampung. Untung aku ingat untuk membawa badan ini ke atas sehingga kulit ngga perlu tersayat pada dasar kolam yang terbuat dari batu alam dan dangkal itu (saran: kolam harus direnov dan dibuat lebih dalam lagi). Bayangkan kalau yang terbalik anak2!!!! Petugas menyalahkan aku, katanya aku ngga pegangan!~!!@ dasaaaaar gak profesional! Suer ngga mo naik Hairpin lagi...

Urusan makanan PIK kalah jauh dibandingkan yang di Bali. Bali punya fish&chips yang 'zeledap' ;p maksudku : lezat dan sedap. Kalau di PIK makanannya biasa2 aja, ada pizza yang lumayan tapi harganya juga gitu deh, selebihnya standar aja. Harusnya mereka merangkul merk terkenal untuk jualan disini ya. Seperti Wild2Wet di Singapura yang mengajak Pizza Hut, KFC, Yakult dan Coke serta Pepsi untuk mengisi booth foodcourt mereka.


Secara keseluruhan tempat ini enak dikunjungi rame-rame dengan teman maupun keluarga besar, poin minus terakhir adalah parkir yang masih harus bayar lagi max Rp 5ribu, harusnya kan gratis ya......