our summer magazine 2013 by Slidely - Slideshow maker

Thursday, November 18, 2010

Sendang Gila, Tiu Kelep... Enjoying Magnificent Waterfalls


Air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep berlokasi di kaki gunung Rinjani, tepatnya di desa Senaru, Lombok Utara. Sekitar pukul 08.30 kami berjalan kaki dari hotel ke agen tour & travel di depan Pasar Seni Senggigi yang kami lewati saat pulang dari Cafe Tenda Cak Poer semalam.

Niat semula hendak menyewa mobil untuk 1 hari, namun setelah beberapa agen kami bandingkan harga dan jasanya akhirnya kami putuskan untuk mengambil paket tour dari PT Anjani Wisata saja ke Sendang Gila yang meliputi desa Senaru, air terjun Sendang Gila, pasar tradisional Lendang Bajur dan hutan monyet Baun Pusuk selama kurang lebih 8 jam seharga Rp 450.000 bertiga.

Pertimbangannya sudah pakai supir merangkap guide, jadi ngga mungkin nyasar, serta tidak perlu isi bensin lagi. Sementara kalau sewa Avanza 8 jam tanpa supir dan bensin Rp 460.000.


kiri & kanan: bukit Malimbu Indah, menawarkan pemandangan karang curam ke bawah dan nun jauh disana terletak 3 Gili yang tersohor itu (Trawangan, Meno & Air)


Kanan bawah: 3 Gili ( 3 G's)

Jam 09 pagi kami start dari biro tour tersebut. Disepakati bahwa kami akan langsung menuju Senaru dan melihat air terjun Sendang Gila serta Tiu Kelep, lalu ke hutan monyet Baun Pusuk, makan ayam taliwang di Cakra, mengunjungi pusat oleh-oleh dan mutiara dan terakhir mampir di Mataram Mall. Pasar Tradisional tidak dapat dikunjungi karena ternyata beroperasi hanya pada pagi hari. Jika berminat maka tournya harus dimulai sekitar jam 07.00.


kiri: anak pantai di Teluk Nara

kanan: jalan mulus ternyata baru sampai Pemenang. Selepas itu sedang dalam tahap konstruksi. Bayangkan kalau sedang hujan lebat, pasti akses jalan tertutup ya?


kiri: isi bensin dulu di Tanjung, lihat antrean jerigen bensin tersebut, di Jakarta yang seperti ini sudah dilarang


kanan: melewati Bangsal, tempat kapal-kapal yang menuju 3 Gili berangkat

Supir merangkap guide kami yang bernama Pak Zen, asli orang Sasak, sepertinya belum bisa mengemudi dengan baik. Gimana engga, kalau mau menyalib motor atau cidomo apalagi mobil lain di depan kita, harus ambil ancang-ancang jauh banget, tancap gas, lalu tepat di belakang kendaraan lain langsung berhenti dulu. Lho koq? Setelah itu baru gas mobil ditekan abis dalam posisi gigi 2 untuk melewati kendaraan di depan kita. Jadi mobil kami selalu 'ngeden' saat sedang berusaha melewati mobil lain di depan.
Belum lagi kalau mau menanjak ke atas bukit selalu dengan kecepatan rendah dan minimal gigi 3, haduh!
Sambil menyetir Pak Zen ini bercerita bahwa dia sebenarnya bukan supir melainkan pegawai asuransi merangkap guide lepas yang biasa dipanggil oleh beberapa biro tour. Pantesan...

kiri: awal dari trail menyusuri samping saluran irigasi.


kanan: kalau mobil isi bensin, cidomo isi apa di SPBU?

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, jam 11 lewat kami tiba di pos awal Senaru. Setelah mengambil guide lokal yang akan membimbing kami sampai di air terjun, perjalanan dilanjutkan hingga tiba di saluran irigasi yang airnya jerniiih sekali. Kami bertiga diturunkan disini bersama Ahmad, guide kami yang baru naik tadi. Pak Zen? meluncur santai dengan mobilnya ke arah atas. Katanya sih akan menunggu kami di atas sana.

kanan: bersama Ahmad, melewati jalur setapak di samping saluran irigasi. Seekor sapi di latar belakang, tadi sempat menghadang laju perjalanan kami :)


kiri: air terjun pertama, Sendang Gila

kanan bawah: sebelah kanan saluran irigasi, sebelah kiri jurang menganga yang tersamar rimbunnya pohon



Menurut Ahmad, jalur yang kami ambil ini lebih panjang namun keuntungannya tidak menanjak dengan curam. Sementara jika mengambil jalur yang lain memang telah dibangun tangga permanen dari cor semen namun lumayan curam.

Sekitar 40 menit kemudian kami tiba di Sendang Gila. Suara air terjun sudah kami dengar samar-samar sekitar 10 menit sebelumnya. Ternyata sangat banyak orang berkunjung hari ini. Tampaknya rombongan anak sekolah dari Mataram. Sempat kulihat beberapa turis bule tertawa sambil geleng-geleng kepala. Betapa tidak, kolam kecil di dasar air terjun tampak seperti isi gelas es cendol yang airnya sudah mau habis sementara cendolnya masih banyak banget! Hanya sebentar disini, kami putuskan untuk lanjut ke Tiu Kelep agar tidak buang waktu, toh tidak ada yang dapat kami lakukan disini karena banyaknya pengunjung.

atas & kanan: dua level anak tangga curam tanpa pegangan tangan ini harus dinaiki saat menuju ke Tiu Kelep, setelah itu kami masih harus meniti jembatan yang


bolong-bolong sepanjang saluran irigasi. Dibawahnya ada jurang menganga.



Setelah saluran irigasi berakhir di pintu air ini (foto kiri), perjalanan ke Tiu Kelep dilanjutkan melewati jalan setapak menembus hutan dan
sungai (kanan & kiri bawah). Dari Sendang Gila ke Tiu Kelep memakan waktu sekitar 1 jam berjalan kaki.

Karena medan yang lebih sulit membuat pengunjung ke Tiu Kelep tidak begitu banyak.


kiri: jalan setapak menyempit sampai hanya selebar celah di antara dua batu ini
kanan: Kevin kuat juga berjalan

Saat kami dapat melihat Tiu Kelep terbayar sudah semua kelelahan tadi (foto kanan).



kiri: untung bawa baju ganti, Kevin tidak menyia-nyiakan kesempatan berenang di kolam yang airnya sejuk sekali ini. Ada pelangi kecil tepat di pertemuan air terjun dan kolam.

kanan bawah: sesaat setelah mengambil fotoku dan Kevin ini, my hubby terjatuh


karena licinnya lumut pada batu kali. Celana pendek yang juga berisi dompet, kamera dan cellphone basah kuyup semua. Padahal si Ahmad baru saja berujar, "lewat sebelah sini aja Pak, di situ licin"

kiri: pose dengan celana yang kuyup

Setelah puas berfoto dan main air di Tiu Kelep, kami segera kembali ke arah Sendang Gila melewati rute yang sama. Perjalanan pulang rasanya selalu lebih cepat ya?

Dari Sendang Gila kami naik ke Senaru melalui jalan tangga semen yang curam sehingga kaki ini berat sekali untuk dilangkahkan, apalagi setelah dipakai ke Tiu Kelep tadi.


kiri atas: Pintu masuk ke Sendang Gila yang jalurnya berupa anak tangga cor semen.

kiri: kantor ekspedisi 'GalangIdjo' tempat Pak Zen menunggu kami dengan mobilnya

bawah: peta trail Senaru


Setelah melewati 2 rute pergi dan pulang yang berbeda, sungguh menimbulkan pertanyaan bagiku. Bukankah seharusnya kami datang dari pintu masuk (turun lewat anak tangga) baru kemudian pulang lewat samping jalur irigasi yang jalurnya datar? Ini koq malah sebaliknya?

Mereka yang kurang bisa berpikir atau jangan-jangan kami dikerjai supaya lebih cape dan ngga cerewet minta dibawa ke tempat lainnya? haha...


kiri & kanan: situs masjid kuno Bayan Beleq yang kami lewati dalam perjalanan ke Baan Pusuk


Dari Senaru kami turun gunung lewat Tanjung lagi, kemudian sampai di depan Bangsal belok kiri ke arah

kiri: desa Tanjung nan gersang, berbeda dengan desa Senaru yang hijau asri

Baan Pusuk, hutan para monyet (foto kanan).
Karena aku takut pada monyet maka ditempat ini yang turun hanya David dan Kevin serta Pak Zen.


Dari Baan Pusuk kami dibawa ke pusat oleh-oleh di kota Cakranegara.
Karena dodol sirsak yang kucari ternyata habis, akhirnya yang dibeli hanya keripik nangka dan manisan tomat ceri yang rasanya lumayan enak.
Di tempat ini juga menjual mutiara yang sayangnya kurang menarik perhatian kami.

Setelah belanja selesai kami segera menuntut untuk mengisi perut. Pak Zen membawa kami ke restoran ayam taliwang 'Irama', masih di Cakranegara juga (lihat post sebelumnya)

Tempat terakhir yang kami kunjungi hari ini adalah Mataram Mall. Disini kami sempat beli KFC untuk makan malam dan ternyata di jalan samping mal merupakan pusat oleh-oleh baju. Mulai dari kaos sampai daster lengkap tersedia dengan harga tanah abang. Ngga seperti pedagang di Bali yang kalau nawarin harganya gila-gilaan. Lombok benar-benar asyik!

Kalau dipikir lebih lanjut tour kami hari ini tidak berasa seperti ikut tour dimana guidenya memandu kami dengan berbagai kisah tentang tempat-tempat yang kami kunjungi. Pak Zen berfungsi lebih tepat sebagai supir, bertolak belakang dengan pengakuannya yang 'bukan supir' tadi. Sementara si Ahmad, guide lepas yang disewa Pak Zen buat kami di Senaru tadi siang, dialah bintang guide kami hari ini. Hidup Ahmad!!!



Wednesday, November 17, 2010

Around Mataram, Ampenan, Cakra & Senggigi


"Pulau Lombok bagaikan Bali di awal 1980an". Begitulah yang banyak diperbincangkan orang. Saking penasarannya, maka pada libur Idul Adha tahun ini, tepatnya 17 - 21 November 2010 kami bertiga terbang ke pulau yang termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.


Terbang dengan Lion Air sekitar 1,5 jam, kami mendarat di bandara Selaparang yang terletak di kota Ampenan pada pukul 15.30 wita.

Cuaca selama penerbangan cukup cerah, namun saat kami sudah berada dalam taksi menuju hotel di -

daerah Senggigi hujan turun dengan derasnya, untung ya..

Perjalanan dari bandara ke Senggigi menggunakan Borobudur Taksi milik koperasi bandara yang dioperasikan secara monopoli. Jadi setiap tujuan telah memiliki tarif tetap masing-masing.

kanan atas & bawah: pemandangan dari balkon kamar

Dari Selaparang ke Senggigi kami diharuskan membayar Rp 57.000.
Lama perjalanan hanya sekitar 25 menit. Meski jalan rayanya mulus namun tidak begitu lebar, sehingga jika ada motor didepan kita sementara ada mobil dari arah berlawanan maka untuk mendahului motor tersebut kita harus menunggu mobil tersebut lewat dulu, karena lebar jalannya ngga bakalan muat.

kiri: cafe tenda Cak Poer, Senggigi

kanan: kesal menanti ayam bakar di Cak Poer yang ngga muncul-muncul , sementara aku dan hubby sudah selesai makan nasi goreng. Ini disebabkan karena terlalu ramainya pengunjung sementara pelayan meneruskan susunan order pada sang koki secara kacau balau. Paling aneh saat kami telah kelar makan dan sudah membayar baru capcay gorengnya tiba, halah!!

Selesai meletakkan koper di kamar, kami langsung turun ke halaman belakang hotel untuk menengok pantai dan kolam renangnya. Udara setelah hujan masih meniupkan semilir angin sepoi-sepoi.

Pantai di belakang Sheraton Senggigi berpasir coklat halus dan bersih. Pantai-pantai di Senggigi terkenal komplit karena memiliki aneka warna pasir, ada yang putih bersih, cream, coklat sampai abu-abu gelap juga ada. Tinggal pilih..

kiri & kanan: breakfast di hotel

Ketika browsing Mr Google dikatakan bahwa jalanan di pulau Lombok mulus, sepi dan rata, sehingga cara paling bagus untuk menikmati keindahan pulau adalah dengan menyewa sepeda. Well, I think either the author was talking about the other islands or the post were made and not updated for a long time.. Boro-boro nyewa sepeda, baru lihat kontur jalanan di Lombok Barat dan Utara terutama Senggigi yang seperti Phuket, turun naik bukit, sudah bikin nyali ku ciut duluan. Mungkin di Selatan Lombok lebih rata ya...?


kiri & kanan: icip-icip ayam Taliwang Irama dan pelecing kangkung di Cakranegara, lezat walaupun ayamnya berukuran mini, hehe


Kurangnya transportasi disini mungkin menyebabkan Lombok belum dapat berkembang sepesat Bali. Bayangkan, hampir tidak ada kendaraan umum. Pilihannya hanya sewa mobil, panggil taksi atau sewa motor. Hanya di beberapa tempat (di depan hotel kami ada beberapa) ada cidomo (semacam delman kecil) yang mangkal. Namun karena kontur jalannya yang naik turun, serta pengalamanku sendiri waktu mencoba naik, cukup 1 kali saja dari hotel ke Cafe Alberto pp. Takut as cidomonya patah dan ngga tega lihat kudanya dicambuk..huhu.

kiri & kanan: Mataram Mall, satu-satunya mal di pulau Lombok

Kalau ingin layanan pesan antar KFC, Mc Donald dan PizzaHut, ada namun mohon maaf terbatas hanya untuk sekitar Mataram kota saja, duh!
Untungnya kuliner lokal menawarkan ragam menu yang menerbitkan air liurku. Selama beberapa hari ini mulut dan perut berteman cukup akrab dengan ayam taliwang, ayam betutu dan pelecing kangkung yang gampang ditemui di penjuru pulau ini. Ukuran pedasnya bisa ditawar koq :)

kiri: 1 diantara dua supermarket yang ada di Senggigi, 'Senggigi Jaya'

kanan: inside Mataram Mall

Bagian pulau yang lebih hidup oleh wisatawan adalah Lombok Barat & Utara. Banyak wisatawan Barat yang menyewa motor, sementara yang dari Asia lebih memilih sewa mobil atau taksi.

Bila sebagian besar pulau sepi setelah matahari terbenam, sebaliknya Senggigi ramai sampai jauh malam. Di daerah ini hanya terdapat 2 supermarket (lebih tepatnya sih minimarket). Satu namanya Senggigi Jaya terletak disebelah money changer dan atm BCA serta Papaya Cafe. Yang satunya terletak di seberang cafe tenda Cak Poer. Tapi walaupun hanya dimonopoli oleh dua toko tersebut, barang yang dijual sangat lengkap dan harganya sama saja dengan supermarket di Jakarta. Dari Tampoon sampai Diamond Juice lengkap, mulai krim creambath Makarizo & L'oreal hingga obat-obatan ada, mau aneka sunblock merk lokal dan internasional banyak. Hebat juga.

Bukan main, baru setengah hari disini I started to love this island. Meskipun belum seramai Bali, masyarakatnya jauh lebih ramah pada wisatawan domestik macam kami ini. Semoga poin plus ini akan mereka pertahankan hingga kapanpun. Cukup sering aku mendengar keluhan wisatawan lokal tentang sikap sebagian besar orang Bali terhadap wisatawan dari negerinya sendiri. Sungguh sayang...


atas & kanan: keindahan sunset di Senggigi


kiri: tempat romantis di Senggigi untuk nonton sunset dan makan malam. Menyediakan pizza crispy yang enak dan kolam renang di tengah resto.
Terletak berdekatan dengan Pura Batu Bolong.



kanan: restoran hotel yang bersambungan dengan pool bar dan kolam renang. Sunset juga dapat dilihat dari sini.

kanan: Cidomo yang kami sewa untuk mengantar kami ke Cafe Alberto

kiri: area check-in di Bandara Selaparang, hanya ada 3 loket. Dengan airport tax Rp 20.000 Bandara ini juga hanya punya 1

ruang tunggu yang dipakai ramai-ramai. Beruntung Sheraton memiliki lounge khusus buat tamunya disini.

kiri: gunung Rinjani di kejauhan

kanan: makan siang di hoka bento tiruan sebelum naik pesawat

kanan: jalan jauh dari gate ke pesawat




kiri: Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air berjejer manis disamping pulau Lombok


kanan: Senggigi dan Lombok Barat dari atas langit


Lima hari ini belum cukup bagi kami untuk menikmati keindahan Pulau Lombok, karena baru sisi barat dan utara yang kami singgahi. Terbius panorama alam dan pantai-pantai cantiknya kami berniat untuk balik lagi kemari saat libur lebaran tahun 2011. Mungkin saat itu Bandara Internasional yang sekarang sedang dibangun dekat pantai Kuta sudah difungsikan. Lombok Selatan dengan pantai Putri Nyale dan Tanjung Aan menanti kedatangan kami... Au revoir !!