our summer magazine 2013 by Slidely - Slideshow maker

Saturday, August 14, 2010

Yoga Mind @ Michael Resorts

Tanggal 14 Agustus 2010 kami berangkat sekitar jam 08.30 menuju ke Bogor. Rencana semula mau berangkat lebih pagi, sekitar jam 6, karena akan ikut tur dari resor mengunjungi desa Ciasmara. Namun malam sebelumnya di-info oleh manajemen resor bahwa jalan yang akan dilalui adalah jalan kelas 5 (berbatu) dan harus menggunakan kendaraan sendiri, dibatalkanlah rencana tsb karena kami sayang sama si coklat..hehe.


Untuk menuju Michael Resorts sebenarnya bisa juga melalui tol lingkar luar Bogor tapi karena niat kami mau makan siang dulu di Bogor maka exit tol yang dipilih adalah yang keluar di kota langsung.
kiri: pintu tol percobaan yg aneh
kanan: macet jl Veteran

Karena mau makan di Botani Square, dari lampu merah depan terminal Baranangsiang kita langsung belok ke kanan. Maksud hati mau cari putaran balik ke arah mal-nya IPB tsb, kami malah terjebak macet sampai ke jl Veteran segala, bahkan keterusan sampai muncul2 udah di taman topi dekat setasiun kereta..halah!!
Akhirnya masuk parkiran mal udah sekitar jam 11 kurang sedikit. Makan di Rice Bowl sekitar 1 jam (ehm, syomainya enaaaak bener), jam 12.15 perjalanan dilanjutkan ke arah kampus IPB Dramaga (bukan Baranangsiang ya, ingaat!!)

kiri: jalanan di desa Ciampea lengang dan sempit

Sebagai petunjuk, keluar dari Botani Square ambil arah ke kanan dan ikuti saja jalan ke arah tol jagorawi, lalu putar balik kembali ke terminal Baranangsiang. Dari lampu merah lalu belok ke kanan dan terus ambil jalur di sebelah kanan saja. Di lampu merah depan Botani Sq lurus aja, jangan belok kiri karena nanti akan terjebak macet abadi di depan pasar dan terpaksa ikut jalan yang satu arah ke Veteran spt kita. Setelah lewat lampu merah tsb, ganti jalur sebelah kiri, susuri tepian kebun raya sampai ketemu hotel Salak the Heritage di sebelah kanan, ganti jalur ke kanan, siap2 untuk belok ke kanan di lampu merah berikut. Dari sana ikuti saja petunjuk lalin ke arah kampus IPB Dramaga.

Setelah melewati kampus IPB, ikuti saja jalan tsb sampai ketemu pertigaan yang ada Alfamart, kantor polisi Cibungbulan dan Indomaret berjejer di sebelah kanan, dan ada tanda: 18 km to Michael Resorts di sebelah kiri. Langsung belok ke jalan kecil di kiri jalan yang banyak angkot ngetem. Dari Bogor sampai sini sekitar 1 jam kalau lancar tanpa macet.

Jalan selanjutnya berupa jalan desa yang relatif mulus tapi sempit shg kalau berpapasan dengan

kendaraan lain musti agak2 ngerem. Dari belokan jalan raya besar tadi sampai tiba di resor makan waktu sekitar 30 menit.


kiri: inside Botani Square
kanan: petunjuk di gerbang kawasan wisata Gunung Salak Endah

kiri: tanda di pertigaan Cibungbulan
kanan: gerbang resor

Btw, nanti menjelang masuk kawasan wisata Gunung Salak Endah ada gerbang yang dijaga petugas yg akan minta uang masuk sebesar Rp 17.500 untuk 3 orang dan 1 mobil. Resmi koq, dapat karcisnya pula :)

Dari pertigaan tadi jalanan akan menanjak sekali, jadi jangan lupa persiapkan kendaraan dengan baik supaya ngga mogok atau bermasalah dengan ban ya..ya..ya..


kiri: pemandangan menjelang resor
kanan: vila damar yang kami sewa


kiri: si coklat sedang beristirahat...
kanan: Kevin lagi meneliti vila yg lain

Sampai di gerbang resor yang penjagaannya super ketat, kita diminta untuk menunjukkan surat konfirmasi pemesanan vila, untung saya bawa nih..

Setelah surat dibawa masuk untuk diteliti apakah mengandung bahan peledak atau tidak :D, barulah pintu gerbang dibukakan bagi kita..hehe.


Ngga berapa lama kami dan barang bawaan yang ngga banyak (cuma 2 travelling bag kecil) dibantu oleh 2 belboy (mungkin karena saat itu rada sepi shg ngga ada kerjaan, jadi harus dikaryakan setiap ada kesempatan ya..) diantar oleh supervisor ke vila damar yang kami sewa. Jadi total ada 3 yg nganterin :)

Vilanya apik, dengan 2 kamar tidur (yg satu Quen sz, satunya lagi berisi twin bed @ 120cm), dan 1 kamar mandi dengan gas water heater yang saat dinyalakan akan bunyi tttkkkk...dddrrrt...bbbuuulll, shg Kevin kalau mau mandi harus disiapkan dulu airnya dalam gentong keramik cina yang bagus itu, haha.

Untuk tarif klik di sini

kiri: pose gembira saat baru tiba :)


Kalau mau berenang juga bisa disini asal tahan dingin aza :D

kanan: berpose gaya diatas sungai kecil bernama sungai Cimudal, yang terletak di kaki resor ini. Untuk turun ke bawah tinggal ikuti jalan setapak berbatu alam yang sudah dibuat oleh resor, namun hati2 bagi yang hamil, sudah berusia lanjut atau balita.., karena lumayan curam dan takutnya ngga kuat balik ke atas :)

kanan: vila Bamboe
kiri: Kevin dibawah vila Okaria

Nanti kalau berkesempatan nginap disini lagi aku mau coba vila bamboe karena tempatnya yg unik, atau vila Okaria karena viewnya yang langsung menghadap ke lembah bagus banget.


Saat kami sampai tadi jam sudah menunjukkan pukul 14:05 dan hujan turun rintik-rintik. Jadi saat kami mulai explore keadaan resor ini, rumput dan jalan setapaknya lumayan basah.

Mulanya kami tengok kolam renang lebih dahulu karena si Kevin sudah merengek-rengek minta berenang dari tadi. Untungnya hujan membuat keadaan kolam jadi dingin sehingga dia memutuskan untuk ikut kami jalan ke bawah dulu.

Kolase diatas aku buat dari beberapa foto bunga yang kami temui di dalam resor, dan juga satu foto batu yang ditumbuhi lumut dengan subur hingga menyerupai karpet beludru. Koleksi bunga-bunga mereka sangat banyak dan sebagian termasuk jenis yang sudah langka.


Di bagian bawah resor terdapat mata air yang airnya katanya sih bisa langsung diminum. Juga terdapat aliran sungai Cimudal.


Sekitar 30 menit kami jalan ke arah bawah lalu setelah puas kami kembali ke arah atas namun kali ini kami memilih jalan menanjak yang ke arah kiri karena katanya bisa lihat air terjun dari ujung resor ini.

Perjalanan menuju tempat viewing air terjun itu

kiri: Kevin dibantu papanya saat mau menyeberangi sungai
kanan: saat morning walk

melewati spot yang mereka beri nama 'kampung monyet'. Aku tidak sempat bertanya ada berapa ekor monyet yang ada di situ. Kami hanya bertemu seekor saja. Monyetnya dari jenis Surili yang berasal dari daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah dan sudah digolongkan sebagai hewan langka sejak tahun 1988.

Setelah melewati kampung monyet, kami sampai di satu kandang kecil yang berisi kanguru kecil yang asalnya dari Merauke. Lucunya kanguru ini bisa tersenyum dan mendatangi kita untuk minta makanan. Tapi karena ngga tahu makanan yang boleh untuknya maka kami ngga berani memberi bekal kami buat dia...poor little cute one

Dari kandang tersebut, jalan masih lumayan menanjak..sampai akhirnya di ujung kanan resor tibalah kami di sebuah cekungan dengan pinggir kanan berbatasan langsung dengan jurang yang lumayan dalam, dan di depan kami sedikit tertutup dahan2 pepohonan, berdiri tegak sebuah air terjun yang suara airnya dapat terdengar dengan jelas walaupun dari jarak yang lumayan jauh...

Puas mengambil foto disana, kami balik ke atas. Hujan sudah berhenti dan Kevin tidak puas kalau belum nyebur ke kolam renang. Jadi acara selanjutnya adalah menonton Kevin main air sebentar karena aku ngga mau kedinginan kalau harus ikut masuk ke kolam.

Saat kembali ke vila, sudah menanti semangkuk besar kolak panas yang disediakan oleh pihak resor selama bulan puasa ini ..nyam..nyam :D


kiri: view air terjun dari dalam resor. Kalau sedang tidak hujan kita bisa keluar dari resor lalu jalan ke arah kiri dan tidak jauh dari situ lewat jalan setapak sekitar 10 menit sudah sampai di bawah.

kanan: hutan pinus di dekat resor

kiri: Kevin di depan pintu restauran
Karena resor ini jauh kemana-mana maka untuk makan malam kami 'terpaksa' beli makan dari dapur mereka. Menu yang paling cocok hujan2 (lagi) begini adalah nasi goreng. Kevin pilih nasi goreng seafood sedang kami berdua nasi goreng ikan asin yang lumayan enak.

Malamnya aku langsung grook..grook..zzztt, sementara Kevin belajar IPS dengan papanya karena hari senin ada ulangan, kasihan ya :(


Keesokan paginya kami bangun sekitar jam 6, dari jendela kamar kami menonton bajing yang sedang memanjat pohon damar dekat jendela, sayangnya ketika mau di foto dia malah sembunyi :(
Lalu kami langsung jalan-jalan pagi mengelilingi resor lagi. Udara yang segar membuat badan dan pikiran jadi 'plong'..hehe..

Left: David sedang memotret monyet Surili





Left: Monyet Surili sedang nongkrong dengan asyiiiknya...









Setelah puas berkeliling, hampir jam 8 pagi kami mampir di restauran resor untuk sarapan. Menunya lumayan, ada eggs counter yang juga menyediakan waffle dan pancakes, nasi dan mie goreng, ayam (mirip) kentucky, bubur ayam, aneka roti dan buah serta jus.





Habis sarapan kami segera beberes dan check-out karena mau lihat air terjun Cigamea dan hutan pinus di atas sana.



Eh, rupanya ngga berapa lama kemudian hujan turuuuuun lagi dengan derasnya sehingga kami ngga bisa turun ke air terjun karena jalanannya liciiin sekali. Akhirnya kami hanya bermobil ke arah hutan pinus dan ketika hujan deras berubah jadi rintik-rintik segera kami turun dari mobil untuk mengabadikan suasana pine forest yang indah ini. Setelah itu mobil segera mengarah kembali ke Bogor....................... :)


Saturday, June 5, 2010

Wisata ke Bandung Selatan: Kawah Putih dan Situ Patengan



Setelah ulangan umum dari sekolah selesai, ada 1 minggu istirahat sebelum menjalani ulangan dari dinas pendidikan nasional. Jadi pada tanggal 5 Juni 2010 kami mengajak Kevin untuk jalan2 ke Kawah Putih. Sudah ada beberapa temanku dan juga guru2 sekolah Kevin yang pernah mengunjungi tempat tsb, dan dilihat dari foto2 mereka Kawah Putih sepertinya tempat yang sayang untuk dilewatkan.

Dari rumah kami berangkat pagi sekali, jam 05.45, karena ingin sampai di Kawah Putih sekitar jam 9 pagi. Seperti biasa kami berhenti di KFC km 39 dulu untuk beli sarapan dan dimakan sambil jalan.

kiri: keluar kompleks masih sepi
kanan: sampai di Bale Endah jam 8

Jam 7 kurang 5 menit kami sudah memasuki tol Cipularang dan melewati km 76 yg merupakan exit keluar terdekat kalau mau ke tangkuban perahu. Kali ini kami akan keluar di pintu tol Kopo-Bandung.

kanan: Masjid Besar Ciwidey


Dari exit tol Kopo belok kanan melewati kompleks Kopo Permai tempat tinggalku semasa smp :) terus ke arah Bandung Selatan.
10 tahun tinggal di Bandung paling jauh jalan ke arah selatan ya cuma sampai patung pesawat di Nurtanio itu, ngga pernah lebih...hehe. Makanya kaget juga waktu dibawa suamiku lewat sini... oh, ternyata...?!



Jalan ke arah Kawah Putih selepas Ciwidey kanan kirinya didominasi oleh kebun2 strawberry kecil maupun besar dan alamaaak... jalanannya sempit!

Jam 9 lewat 1 menit kami memasuki gerbang Kawah Putih yang katanya baru di buka kembali setelah tutup beberapa waktu yang lalu untuk ditata ulang. Ternyata penataan tsb berwujud pada kondisi jalan ke kawah yang sekarang mulus sekali, dan pada lokasi pedagang yang dulu katanya berada di pinggir bibir kawah, namun setelah longsor membuat sang pemilik yaitu kementrian kehutanan berpikir ulang untuk merenovasi kawasan wisatanya ini.

Saat ini lokasi untuk pedagang terletak di sebelah kanan setelah gerbang bayar tiket. Ada 2 pilihan apakah hendak membawa mobil sampai ke atas (dekat dengan kawah) atau memarkir mobil di area pedagang kemudian naik angkutan yang mereka sediakan ke atas. Opsi ke 2 tentu lebih murah, namun penetapan harga belum terlalu jelas. Sepertinya mereka belum siap betul untuk membuka kembali tempat ini.


Kami bertiga memilih opsi pertama dan harus membayar tiket seharga Rp 185.000 What????? tiketnyapun hanya berupa kwitansi tanda terima uang yang ditulis tangan dan diberi cap oleh si bapak. Wah..wah.., padahal katanya sebelum renovasi itu untuk masuk Kawah Putih cukup membayar sekitar Rp 7.000 seorang?
Selesai urusan bayar tiket, mobil langsung jalan ke arah atas. Jalan yang mulus sekali tapi ngga cukup lebar untuk 2 mobil, heran, waktu bikin jalan mereka ngukur lebar jalannya pakai ukuran daihatsu ceria kali ya?

Sampai di tempat parkir di atas baru ada 1 mobil yang parkir.yes! berarti masih sepi nih.. senangnya :D

Pemandangan disini memang fantastis, serasa di danau salju yang dikelilingi pohon meranggas yang kedinginan, padahal kenyataannya mereka meranggas karena terkena hawa belerang yang baunya membuat paru-paru megap2 karena sesaknya...hhhhhhhfh. Saran dari bapak petugas sebaiknya berada di sekitar kawah tidak lebih dari 20 menit untuk amannya, karena kandungan belerang disini sangat tinggi.

Menurut sejarahnya dulu tempat yang merupakan danau kawah dari gunung Patuha ini tidak pernah didatangi oleh penduduk sekitar bahkan hewan satupun nggak pernah terlihat saking angkernya. Kemudian datang seorang berkebangsaan Belanda yang menyelidiki tempat ini dan menemukan penyebab mengapa tidak ada satu hewan-pun yang mau dekat2 kemari, nggak lain karena hawa belerang itu. Sejak itu kawasan ini mulai didatangi orang karena keindahan alamnya yang tersebar dari mulut ke mulut.

Puas menikmati Kawah Putih kami segera kembali ke mobil. Saat berjalan kesana kami berpapasan dengan sangat banyak orang yang baru datang..hehe...untung aku sudah puas foto2 bersepi-ria dengan alam.

kiri: membawa Buzz n Woody foto di jalan menuju Situ Patengan.


Dari Kawah Putih kami pergi menuju ke Situ Patengan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawah tersebut. Sempat berhenti di pinggir jalan untuk foto2 dengan latar belakang kebun teh yang terletak di lembah luas yang bukan main indahnya..

Tiket masuk bertiga + mobil Rp 15.000, sangat murah dibandingkan Kawah Putih. Mungkin ini sebabnya taman wisata ini jauh lebih ramai dari Kawah Putih.

Ditengah-tengah taman wisata terdapat danau besar (situ=danau) dan di tengah danau terdapat pulau kecil yang dinamakan pulau asmara karena bentuknya yang mirip hati.

Orang sering melafalkan Situ Patengan dengan Situ Patenggang, namun Patengan berasal dari bahasa Sunda 'Pateangan-teangan' yang artinya saling mencari. Alkisah katanya ada 2 orang yang bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling cinta, lalu mereka berpisah sekian lama dan kemudian saling mencari. Finally they met di sebuah tempat yang dinamakan Batu Cinta. Si wanita lalu minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu ini kemudian menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati tadi.


Jam 11.35 kami selesai mengunjungi tempat ini kemudian mobil mengarah kembali ke Bandung.
Menjelang pasar Ciwidey, macet. Soreang, macet. Kopo, macet, puarah. Hhhhrrggghh.. mana perut udah kriuk kriuk, namun hujan besar membuat kami malas untuk menepikan mobil sekadar untuk berhenti di restoran apa aja gitu.

kiri: kebun teh di Ciwidey, menjelang masuk ke Situ Patengan


Akhirnya sekitar jam 3 sore baru kami bisa lepas dari macet-macet tersebut yang ternyata sebagian besar disebabkan oleh genangan air karena hujan besar itu.

Setelah berhenti makan siang di Jl Hasanudin kami langsung menuju hotel Padma di Ciumbuleuit untuk beristirahat karena badan sudah lelah sekali.

Istirahat di kamar, baring-baring, nonton tv, main komputer, internetan gratis, ngga terasa jarum sudah menunjukkan hampir jam 8 malam dan perut mulai bunyi lagi, wah..

Karena udah tobat sama yang namanya macet, malam ini kami putuskan untuk makan malam di Maxi's Resto dekat hotel saja. Sebetulnya sih cukup jalan kaki tapi karena gerimis ya terpaksa naik mobil..hihi, baru jalan bentar udah musti turun lagi. Hanya 2 menit :) Setelah kenyang langsung balik lagi ke hotel.

Paginya setelah selesai sarapan kami sempatkan untuk berenang. Aku paling senang berenang di hotel ini karena airnya ngga pernah berasa dingin walaupun cuaca disini sedang dingin sekalipun. Heran d, jangan-jangan mereka pakai water heater ya, hanya saja suhunya disetel sedang2 saja :)

Sisa hari kuhabiskan dengan leyeh-leyeh dikamar sementar Kevin main flying fox dan basket bareng papanya.......... :D


Sunday, May 2, 2010

Tangkuban Perahu, after 15 years, here we come again...

Istirahat Akhir Pekan di Bandung

1 Mei 2010
Sabtu pagi jam 07.00 kami bertiga berangkat dari rumah untuk berakhir pekan di Bandung. Masuk tol Cikampek melalui pintu tol Bekasi Barat, kami langsung meluncur ke arah Sadang. Setelah berhenti sebentar untuk sarapan di km 39, perjalanan pun dilanjutkan kembali.
Kami mengambil arah Sadang di pecahan tol Sadang-Cikampek, kemudian setelah masuk tol arah Bandung, kami mengambil jalan keluar ke arah Subang, karena tujuan pertama kami sebelum mencapai Bandung mau melihat Tangkuban Parahu dan Sari Ater (d/h Ciater).







Hutan pinus menuju Sari Ater Hot Spring


Jalan ke arah Subang sempit dan berliku, namun tidak ada macet. Paling hanya melambat sedikit kalau bertemu truk2 kecil yang jalannya pelaan. Lewat Subang kita juga disuguhi perbukitan teh yang tidak kalah menawan dibandingkan daerah puncak
Di bibir kawah Ratu
Dari Subang yang pertama kami lewati adalah Sari Ater Hot Spring. Jam saat ini menunjukkan pukul 09.15. Harga tanda masuk bertiga dengan mobil Rp 61.000, tapi karena tidak ada yang ingin berenang di sini kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Tangkuban Parahu yang tidak begitu jauh dari Sari Ater, kira-kira 2 km saja.
Pintu masuk kawasan Tangkuban Parahu masih sama seperti 24 tahun yang lalu saat aku masih kelas 5 SD main ke sini bersama orangtua dan saudara. Jalannya pun masih rusak sana-sini (jangan2 dari dulu ngga pernah dilapis aspal lagi ya J ) . Naik terus ke atas, melewati kawah Domas, sampailah kami di bagian puncaknya, yaitu kawah Ratu. Sekarang di atas sini sudah jauh lebih rapi dibandingkan ingatanku dulu. Pedagang kaos dan makanan sudah tertata apik di kios2 yang di atur sepanjang jalan setapak menurun ke arah bibir kawah.

Setelah foto-foto, dan sempat makan jagung bakar panas2, kami putuskan untuk segera menuju Bandung, karena terik matahari sempat beberapa kali mengintip di balik awan mendung di atas gunung Tangkuban Parahu.
Sempat berniat untuk berhenti di pasar buah dan sayur Lembang, tapi karena sepertinya arus lalulintas sudah di ubah arahnya, akhirnya karena takut nyasar dan kelamaan, kami segera meluncur ke Bandung.
Memasuki jalan Setiabudhi atas, melewati hotel GH Universal, jadi ingat, dulu sempat menginap di hotel ini sekitar Agustus 2008 waktu hotel ini baru saja di buka. Kamarnya besar dan ok, sayang air kolamnya dingin bukan kepalang, juga tarifnya terlalu tinggi untuk keadaan hotel dan pemandangannya. Dengar2, sekarang mereka sudah cut-off tarifnya. Lumayan juga kalau di kisaran Rp 500ribu.
Lewat rumah sosis, tadinya mau makan dulu karena sudah jam 11.30, tapi diputuskan untuk mencari tempat makan lain di daerah Ciumbuleuit, karena kami jarang-jarang ke daerah sini. Biasanya kegiatan hanya terpusat di Setiabudhi, Cihampelas, Cipaganti, Pasteur, Pasopati, Dago, dan pusat kota.
Sampai di akhir ruas Setiabudhi yang akan nyambung ke Jl Cihampelas, kami belok kiri, ketemu lampu lalin, ambil jalur yang terus ke atas, Jl Ciumbuleuit (kalau belok kanan ke arah Taman Sari, ITB dll) Naik terus ke puncak gunung J melewati Universitas Katholik Parahyangan, ketemu d’Bale Pakuan di samping kiri jalan, belok kanan dulu masuk Jl Ranca Bentang, ikuti petunjuk Maxi’s Resto, sampailah kami ke restoran yang halaman parkirnya luas dan asri. Ngga nyangka, tadinya pas lihat papan petunjuk dan jalan2nya yang kecil, aku pikir pasti ini restoran yang buka di garasi rumah JJ






Pintu depan Maxi’s Resto


Maxi’s Resto menyediakan makanan western dg tatanan Fine dinning. Walaupun begitu kalau kita pakai baju casual boleh-aja koq J Indonesia tea atuh J. Makanan pembuka adalah sup ayam dan asparagus dg French toast.




Setelah pilah pilih, akhirnya aku putuskan (terjemahannya ya) ayam di panggang dg saos tomat dan oregano ditaburi jamur dan keju mozarela dg kentang goreng dan salad, minumnya orange float (asli jus jeruk, bukan Fanta J). Kevin mau nasi dg ayam teriyaki dan zukini+wortel+jamur yang di tumis, dg vanilla milkshake. Terakhir my Hubby pilih ayam yang dipanggang tanpa minyak dengan saus Bechamel dan mashed potatoes serta salad (bisa pilih mau tumis sayur atau salad) dan minumnya jus BLACKBERRY…haha…asli bukan dummyJ. Porsinya ukuran bule dan rasa tidak terlalu asin, tapi karena lapar berat plus udara sejuk Bandung (lagi mendung saat ini) ya licin tandas juga. Bon kami Rp 165.000 sudah tax n service charge. Boleh juga… Sekedar info dari temanku resto ini ternyata dulu namanya adalah Glosis.
Dari sini tinggal naik terus sampai ujung atas Ciumbuleuit lalu belok kanan kea rah jalan Ki Putih, petunjuk Hotel Padma tersebar dimana-mana. Hotel ini adalah ex The Chedi Bandung, aka Hotel Malya, yang kemudian ganti pemilik, direnovasi dan voila…renamed as Hotel Padma Bandung, sister dr Padma Bali.
Ternyata dari depan hotelnya tampak kecil, ngga seperti di situs hotel Malya dulu yang sepertinya lebaar sekali. Front Office hanya terdiri dari 2 penerima tamu. Setelah check in, kami segera menyimpan barang di kamar, lalu istirahat. Hotel ini menyediakan free internet access yang lumayan cepat dan terpenting gratis toh?. Sorenya kami habiskan dengan berenang, surprise, airnya ngga terlalu dingin lho, padahal cuaca sempat gerimis sedikit, lumayan aku berenang sampai 30 putaran J. Di sini juga ada whirlpool air panas..hebat…






Ada Floating Wedding Chapel

Setelah puas berenang, kami mandi dan main2 di kamar (kan judulnya mau istirahat, bukan belanjaaah ke FO J). Hampir jam 8 malam perut tiba2 jadi lapar, meluncurlah kami ke Jl Naripan (setelah terlebih dulu kena macet di Cihampelas, krn mobil2 pada antri mo masuk CiWalk) buat makan mie Naripan langgananku. Malam yang dingin, habis berenang memang cocoknya makan mie dan bakso plus kuah kaldu panas..hmmm. Jangan takut kemalaman karena mereka buka s/d jam 10 malam. Selesai makan, balik ke hotel lewat Dago, muter2 aja liat suasanan Bandung malam minggu..rame banget.. Di depan UnPar, berhenti di CircleK beli air mineral botol dan es krimJ, lalu pulang ke hotel… nonton, internetan, lalu boboks J J



2 Mei 2010

Bangun jam 6 pagi, kami menyelinap ke bawah saat orang2 masih pada tidur. Puas deh foto2 di halaman belakang hotel, tadinya mau ke bawah, ke area Flying Fox dan olahraga lainnya, tapi lagi-lagi karena panggilan perut, kami malah naik ke lantai atas menuju ke Restoran buat sarapan. Satu-satunya kekurangan hotel ini buat saya adalah anak harus bayar lagi untuk sarapan, sekitar Rp 60.000++, padahal, berapa banyak ya isi ukuran lambung seorang anak umur 9 tahun J? Hotel paling asik menurutku adalah Hard Rock Bali, karena boleh sarapan gratis untuk 2 adults dan 2 childs under 12!!!! Makanannya enak dan variasinya banyak, kolamnya besar banget, kemana-mana tinggal jalan kaki…jempol..jempol.. J Kembali ke Padma: menu sarapannya enak, terutama kesukaanku adalah tomat panggang!! Menunya beragam, dari western sampe oriental dari es puter sampe es krim, puas deh.






Jalan ke restoran

Balik ke kamar, kami santai2 aja, lalu Kevin sempat berenang lagi dan main basket + Flying fox dg posisi mundur (terbalik) secara dia gengsi soalnya si Arya temannya yg kenalan di kolam renang tadi udah meluncur duluan, padahal kemiringannya lumayan curam..hahaha..sayangnya camcorder ketinggalan di kamar L next time!
Jam 11 aku beres2 koper, dan tepat jam 12 kami check out dari Hotel Padma. Sebelum pulang ke Jakarta, kami sempatkan mengunjungi yoghurt Cisangkuy. Sebelumnya dari arah jl Aceh kami berputar arah di sekitar lapangan Gasibu, mgkn karena habis ada pertandingan apa giitu, sampah masih berceceran dimana2. Tadinya sempat mo singgah di Museum Geologi, tapi karena parkirannya penuh, males muter lagi, ya udah langsung aja ke Cisangkuy. Pesan yoghurt anggur, leci dan strawberry, kentang goreng, sate dan batagor, tidak lupa cobain surabi keju…Kenyang, langsung menuju Pasteur via Pasopati. Tidak lupa sebelum pulang mampir di Gepuk Ny Ong, buat oleh2 saudara di rumah J
Sekitar jam 14.00 kami masuk pintu tol Pasteur, jalanan lumayan sepi, cikampek juga sama. Jam 4 lewat sedikit kami sudah sampai di rumah dengan selamat. Akhir pekan yang nyaman tanpa singgah di FO lain kali patut di coba!! JJJ


Yoghurt Cisangkuy

Sunday, April 25, 2010

Dari Cimory Resto sampai Puncak Pass

Minggu, 25 April 2010 setelah selesai bersepeda pagi bertiga, kami memutuskan mau jalan ke Puncak. Biarin deh, macet juga gpp.. soalnya aku pengen banget nyobain resto Cimory, itu tuh yang bikin yoghurt enak itu. Beberapa kali pulang pergi Jakarta-Puncak resto ini hanya kita lewati begitu aja coz perut udah full diisi ditempat lain. Jadi kali ini diniatin bener mau lunch disana!

Start dari rumah aja udah jam 11 lewat. Tol cikampek arah cikunir lancar, dilanjutkan dg tol jagorawi...wiih, lancar juga. Keluar di Ciawi mulai rada rame nih, tapi ngga ada macet koq sampai di tempat tujuan kita ini. :)

Jam 12:45 kami sampai di depan resto tapi duuh parkirannya


penuh seperti biasa. Sama si bapak parkir kita disuruh parkir di dalam resto. Oh ada toh parkiran di bawah sana.. Ternyata kapasitas parkir di dalam itu lumayan banyak tapi jalan masuknya lumayan terjal. Hati2 buat yang baru belajar nyetir :)

Sekitar setengah dua siang pesanan datang menghampiri kami bertiga yang duduk manis sambil foto2in semua sudut yang bisa difoto (sampe pelayannya mendengus sebel krn dia yg mahluk idup aja koq ngga difoto..yeiy maunya)


Chicken Steak pesananku rasanya lumayan, Cordon Bleu dan chicken wings nya juga standar aja. Salah pilih menu kali ya? harusnya ikut pilihan si koki aja.. Minumnya mah pasti yogurt Cimory dong, plus beli lagi buat diminum di jalan dan di rumah (maruk dot com) :)

Setelah puas makan dan foto2 (lagi!) kami segera melanjutkan perjalanan

ke arah atas. Tepatnya ke Puncak Pass, tapi setelah dekat kita malah naik lagi menuju parkiran restoran Rindu Alam. Waktu kita tadi jalan keatas sini sama sekali ngga ada macet, tapi aduh kasian itu mobil2 yang pada mo turun ke Jakarta macet abiiiiiiis, sama sekali ngga bergerak untuk waktu yang lama.

Udah lama banget ngga kesini, terakhir jaman baru jadi mahasiswa sekitar tahun 1995. Tempatnya ngga berubah, masih persis kaya dulu, banyak yang jualan, banyak yang pacaran, banyak yang lagi 'foto diri' ( itu lho, yg memegang hp dengan posisi terbalik, pantat hpnya menghadap ke kita, bikin senyum paling maniez, kepala rada miring dikit, atur2 rambut, mata genit, dan..ceklik! trus liraklirik kanan kiri ada yang liat gw gak ya..)

Si Kevin sempat beli balon tiup dan maen sama abangnya segala hehe.

Foto kiri: antrian mobil yg mo ke Jkt

Foto kanan: jalanan yang lega krn arus dr bawah sudah ditutup.

Di parkiran ini kita istirahat cukup lama, sekalian menunggu jam buka tutup jalan yg akan dilakukan oleh bapak2 polisi kita yang baik.

Tepat jam 16.30 itu macet dibawah sana tiba2 hilang. Rupanya arus dari Jakarta sudah ditutup sehingga yang dari atas sini jadi 2 jalur. Wah, ngga nunggu lama2 kita langsung meluncur pulang. Karena ngga ada titik kemacetan lagi, kami bisa lebih cepat sampai di Bekasi.

Jam 19 lebih sedikit mobil kami sudah memasuki parkiran restoran jawa timur di dalam area kompleks perumahan kami. Makan lagi ah.......!!

Foto bawah: lelah dan mengantuk; si baju hijau dengan minuman hijaunya, es chlorophyl. ^_^