our summer magazine 2013 by Slidely - Slideshow maker

Saturday, April 23, 2011

Sea Walker-- Visiting Nemo & friends


Setelah pulang dari Bali pertengahan tahun 2004 seorang sahabat memberitahuku tentang adanya SeaWalker, sebuah kegiatan berjalan-jalan di dasar laut, yang dapat dilakukan oleh semua orang bahkan yang tidak bisa berenang sekalipun. Syaratnya hanya berbadan sehat dan berumur 9 tahun atau bertinggi badan diatas 140 cm.

Meskipun kami bertiga senang bersnorkeling ria di laut, tetap saja tawaran untuk dapat berjalan kaki di dasar laut tanpa perlu menggunakan peralatan selam merupakan suatu godaan. Hanya saja godaan ini harus kami tahan selama 6 tahun!!!

Akhirnya, trip ke Bali tahun 2011 ini adalah yang ter-asyik karena akhirnya Kevin sudah berusia 10 tahun dan tingginya sudah hampir sama denganku yang ukurannya 160 cm ini :). Tiket SeaWalker pun sudah kami pesan dari Jakarta berbarengan dengan tiket Tari Kecak dan tari Barong. Karena kami datang sendiri ke Puri Santrian Resort, maka kami dikenai Rp 545.000 per orang. Anak-anak pun dihitung 1 orang :(. Jika dijemput ke hotel tentu akan lebih mahal.


Jam 08.30 kami berangkat dari hotel kami di Jimbaran. Memasuki Jl Bypass Ngurah Rai mulai sekitar pertigaan Jimbaran ternyata macet..cet..cet..!
Padahal kemarin kami diingatkan lewat telpon sudah harus dilokasi jam 09.30...

atas: ternyata setiba di lokasi masih harus menunggu sekitar 30 menit :(

Untungnya selepas patung Dewa Ruci di depan Mal Bali Galeria kemacetan mulai terurai. Akhirnya jam 09.40 kami sudah berada di Jl Danau Poso, Sanur, di lokasi Puri Santrian Resort.

kanan: gaya patung menangis


Setelah melapor ternyata kami masih harus menunggu beberapa orang lagi yang akan ikut, dan TERNYATA mereka mengadakan beberapa kali trip sampai dengan jam 12 siang. Jadi kalau tertinggal yang jam 09.45 maka kita masih bisa ikutan trip yang jam 10.15. Jadi rada manyun secara kemarin diingatkan untuk on time dan pengalaman nyetir ala sport jantung selama sekitar 1 jam barusan, Bleh!
kiri: Diterangkan bahasa isyarat dan prosedur darurat lainnya

Menjelang jam 10.15 kami dipersilahkan ganti baju di changing room. Semua barang bawaan disimpan di locker room yang aman. Jadi yang kami bawa hanya kamera tahan air (untuk kedalaman s/d 10 meter) dan handuk serta air mineral botol yang mereka sediakan.

Setelah berganti pakaian renang, kami diberi briefing singkat tentang prosedur keamanan di bawah air, bahasa isyarat sederhana dan tindakan darurat lainnya. Terakhir harus menandatangani surat pernyataan dan asuransi.


Setelah mengenakan wet shoes yang mereka berikan, berangkatlah kami dengan speedboat menuju ponton mereka yang letaknya beberapa puluh meter dari pantai.

kanan: dikerubuti ikan saat memberi mereka makanan

Tiba di atas ponton kami masih harus menunggu peserta trip sebelumnya yang sedang berada di dasar laut. Ternyata diantara mereka terdapat anak yang kalau dilihat dari badannya sih seperti berusia 5 tahun!!! Setelah kutanyakan pada petugas ternyata mereka bilang boleh saja namun resiko ditanggung sendiri...... oalah... tau gitu tahun 2007 atau 2008 udah ikutan deh.

Tidak berapa lama kemudian kami satu persatu masuk ke dalam air dengan helm yang sudah ada nomornya masing-masing. Oksigen dialirkan langsung lewat kabel ke dalam helm. Yang pakai kacamata boleh tetap menggunakan kacamatanya hingga ke dasar laut :)



Saat menjejak tangga turun ke bawah, segera terasa tekanan di telinga, sakitnya -

bukan main. Namun sesuai petunjuk saat briefing hal tersebut dapat dikurangi dengan cara menggerakan rahang ke kanan dan kiri.

oh ya, jangan membayangkan bahwa tangganya semacam tangga bambu yang biasa digunakan tukang bangunan ya. Yang mereka sebut tangga adalah beberapa pipa stainles steel yang berjejer ke bawah, dengan jarak antar pipa lumayan lebar, jadi harus pegangan kuat-kuat supaya ngga bingung mencari mana anak tangga selanjutnya secara kita ngga boleh menunduk karena akan mempengaruhi posisi helm dan jumlah oksigen di dalamnya, wah!


Setelah menuruni kedalaman sekitar 5-6 meter akhirnya kakiku menjejak pasir di dasar laut. Mulanya pemandangan agak keruh, namun lama kelamaan jadi lebih jernih. Eh, baru mulai melangkah koq susah amat ya, ternyata hal tersebut disebabkan adanya arus laut. Untungnya dengan berpegang pada helm akhirnya bisa juga jalan dengan nyaman dibawah.

Selama sekitar 30 menit kami ber-enam dipandu oleh 3 instruktur selam dan 2 orang photographer berkeliling melihat aneka ikan dan koral dibawah, serta berkesempatan memberi makan ikan di bawah. Aih, serasa bintang film deh, karena sepanjang 30 menit itu semua gerakan kita diabadikan baik dalam bentuk foto maupun video.

Setelah habis waktu kami dipandu naik kembali ke ponton dan selanjutnya di transfer ke Puri Santrian menggunakan speedboat yang tadi. Saat kami sampai di atas ponton sudah ada 6 orang lain yang akan turun ke bawah. Laku banget ya..

kanan & kiri : baru kembali ke atas ponton

Setelah mandi dan berganti pakaian di changing room (mereka bahkan menyediakan hair dryer dan kantong plastik untuk baju basah) kami diberi minuman ice lemon tea dan dipersilahkan untuk menonton-


video hasil rekaman tadi. Jika berminat, dapat dibawa pulang dengan membayar Rp 170.000. Sementara untuk foto dapat ditebus dengan harga Rp 90.000 per lembar, haduh! untungnya kami membawa kamera sendiri :))

kiri: di bale bengong Puri Santrian

Sekitar jam 12 siang kami mampir di Mc Donalds Jl Bypass Ngurah Rai untuk makan siang lalu pulang ke hotel.


Friday, April 22, 2011

Enjoying sunset & Kecak Dance at Uluwatu Temple


Bayangkan, berkali-kali pergi ke pulau dewata namun belum sekalipun nonton pertunjukan tarinya! Akhirnya pada trip kali ini kami sengaja khusus meng-agenda-kan dan bahkan khusus memesan tiket dari Jakarta, untuk dua pertunjukan tari yaitu Tari Kecak dan Tari Barong.

Setelah surfing sana-sini di internet kami memutuskan untuk menggunakan jasa ekuta holiday untuk memesan tiket kedua pertunjukan tersebut serta tiket untuk SeaWalker. Harga tiket per-orang untuk sekali menonton adalah Rp 70.000. Prosesnya ternyata cukup mudah, tinggal email mereka, tunggu kiriman konfirmasi harga, transfer via atm BCA lalu terakhir print aja voucher tiket yang mereka kirim ke email kita tersebut.


Sekitar jam 5 sore lewat sedikit kami sudah tiba di halaman parkir Pura Uluwatu yang letaknya jauh di ujung selatan pulau Bali.

Keuntungan datang lebih dini adalah mudah mencari tempat parkir dan bisa memilih tempat duduk di area menonton pertunjukannya.

Karena kami membawa sarung sendiri maka kami dapat terhindar dari antrian panjang orang-orang yang hendak menyewa kain sarung ataupun selendang kuning yang biasa kita gunakan jika memasuki kawasan pura di Bali.

Setelah berfoto-foto sebentar, kami segera menukarkan voucher tiket di dekat area pertunjukan dan sebagai gantinya diberi 3 lembar tiket masuk yang harus kami serahkan pada petugas di gerbang area pertunjukan nanti.


Karena baru sedikit yang memasuki area pertunjukan maka kami dapat leluasa pilah pilih tempat duduk. Setelah dapat yang paling tengah dan agak di atas kami segera mengeluarkan kamera dan camcorder serta mulai mengabadikan proses matahari terbenam yang kabarnya spektakuler tersebut.
Sayangnya hari ini tebal sekali awan di atas pulau Bali sehingga matahari tenggelam ke dalam awan :) bukannya terbenam di balik laut, hehe...

Perlahan tapi pasti menjelang jam 6 sore tempat duduk dalam area pertunjukan yang berbentuk melingkar tersebut semakin penuh (dan akhirnya menjadi terlampau penuh sehingga antara penonton dan para penari seperti berkumpul menjadi satu)

kiri: pendeta Hindu memberkati para penari
Seorang pendeta Hindu mulai menyalakan api di tengah area pertunjukan, dan tak lama kemudian rombongan penari laki-laki mulai memasuki area.


Tari Kecak adalah salah satu tarian Bali yang populer sejak tahun 1930-an dan dimainkan oleh banyak penari laki-laki yang duduk

melingkar dan menyerukan suara "cak" sambil mengangkat kedua lengannya, menggambarkan kisah Ramayana saat barisankera membantu Rama melawan Rahwana.

Namun sebenarnya Kecak berasal dari ritual Sanghyang, yaitu tradisi tarian dimana penarinya berada dalam kondisi tidak sadar dan melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur.

Tari kecak tidak menggunakan pengantar gamelan, hanya suara "cak" para penari serta gemerincing suara kincringan yang diikat pada kaki penari yang memerankan tokoh kisah Ramayana ini.

Cerita singkatnya adalah saat Rama dan isterinya, Dewi Shita serta adik Rama, Laksamana, tengah diasingkan ke sebuah hutan.

Rahwana berupaya menyingkirkan Rama dan Laksamana dengan


mengirimkan seekor kijang jejadian jelmaan pembantu Rahwana, kemudian menculik Dewi Shita.

Lalu Rama dibantu Hanoman, bala tentara kera Sugriwa dan seekor burung Garuda mengalahkan Rahwana dan berkumpul kembali dengan isterinya, Dewi Shita.


foto kiri:
Di akhir cerita, para penari akan berkumpul di tengah area pertunjukan dan memberi hormat pada penonton, serta mengundang para penonton untuk berfoto bersama mereka.


Padang-padang - Julia Robert's beach


Wah, akhirnya sampai juga di pantai Padang-padang yang terkenal sejak jadi tempat shootingnya Eat, Pray & Love yang dibintangi Julia Roberts itu. Jalan menuju tempat ini lumayan gampang.

Dari arah Uluwatu, setelah melalui Suluban Beach jalan terus ke arah Dreamland namun sebelum sampai di Dreamland kita akan melewati sebuah jembatan yang mempunyai pemandangan ke arah pantai di sebelah kiri bawahnya. Ya, itulah pantai Padang-padang.

Jika datang dari arah Dreamland ikuti saja jalan raya Uluwatu hingga tiba di pertigaan kecil dekat pasar (jauh sebelum pertigaan yang ke Karma Kandara), ambil yang berbelok ke kanan dan ikuti saja jalan tersebut sampai tiba di jalan menurun yang di sebelah kirinya terdapat papan petunjuk tempat parkir ke pantai Padang-padang.


kiri: papan petunjuk parkir, hanya kelihatan dari arah Dreamland

kanan: jalan masuk ke pantai melewati gapura tersebut lalu turun dan belok kanan menuruni celah sempit diantara batu karang


kiri: pemandangan dari atas jembatan, jika kita datang dari arah Uluwatu / Suluban Beach

kanan: Tempat parkir mobil yang berantakan karena tidak ada yang mengatur, namun tetap bayar saat mau keluar :(

kiri & kanan: celah sempit menuju pantai Padang-padang yang harus dilalui bergantian antara yang baru datang dan yang akan pulang

Menurut penduduk sana pantai Padang-padang dulunya lumayan sepi, namun sejak filmnya Julia Roberts tersebut diputar keadaan jadi berubah.

Pengunjung tumpah ruah datang ke pantai ini. Makanya dibuatlah tempat parkir luas di seberang jembatan karena bukan hanya mobil pribadi yang parkir melainkan juga bus-bus tour! Halah..

Rupanya setiap pantai yang dijadikan tempat shooting film buntutnya akan ramai di datangi turis seperti Maya Bay di Koh Phi Phi, dan James Bond Island, keduanya di Thailand.


Lihat saja pemandangan pantai ini yang sekarang penuh dengan turis tumplek-blek, bercampur antara domestik (yang terbanyak) dan mancanegara seperti Cina, Korea, Jepang dan juga aneka bangsa bule lainnya.

Sementara di filmnya tergambar sebagai secluded beach yang bersih, tenang dan bening.
Kesimpulannya hanya membawa keuntungan bagi para manusia sementara lingkungan pantainya jadi terlihat kotor dan tidak terawat :(